Perceptions of Students from Southbound Countries

Read about the perception of students from soutbound countries to share the insight of studying in Taiwan.

Josephine Claretta Budiman/ Providence University

Nationality : Indonesia
Major : Food and Nutrition

20200307_130719 - JOSEPHINE CLARETTA BUDIMAN.jpg
 

My name is Josephine Claretta Budiman and I’m currently taking my double degree master program in Food Technology in Soegijapranata Catholic University and Providence University. This year I would be 22 years old and hopefully when I turn 23 next year, I would already have my master degree. My short term goal would be to finish my master degree with flying colors, while later in life I hope to pursue a career in academics. Indonesia is my home country and words cannot tell how proud I am to be Indonesian because of its rich natural and cultural background. I'm a global citizen passionate about technology, people, stories and food. You'll hold my interest where they intersect, which is on developing healthy and affordable food products that people love using the latest technology. Always eager to learn new things and do my own little research on current food issues that may surface on social media from time to time. And so hopefully, I'll always have interesting things to talk about over a cup of coffee.

Nama saya adalah Josephine Claretta Budiman dan sekarang, saya sedang menjalani program double degree Teknologi Pangan untuk tingkat master di Unika Soegijapranata dan Providence University. Tahun ini, saya akan berumur 22 tahun dan harapan saya adalah saat saya menginjak usia 23 tahun, saya sudah memiliki gelar master. Tujuan jangka pendek hidup saya adalah untuk menyelesaikan pendidikan master dengan nilai yang memuaskan, sedangkan di masa depan saya berharap dapat berkarir di bidang akademik. Indonesia adalah negara asal saya dan kata-kata saja tidak cukup untuk melukiskan betapa bangganya saya menajdi warga Indonesia karena latar belakang alam dan budaya Indonesia yang kaya. Saya adalah warga negara global yang bergairah tentang teknologi, masyarakat, cerita dan pangan. Ketertarikan saya meningkat saat beragam topik tersebut terkait satu sama lain, seperti mengembangkan dengan teknologi terkni produk pangan yang sehat, terjangkau dan diminati masyarakat. Selalu bersemangat untuk mempelajari hal baru dan melakukan riset kecil sendiri pada isu pangan yang sedang muncul dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, saya berharap akan selalu ada topik menarik yang bisa saya bagikan sembari meminum kopi bersama.

————————————————————————————————————————————————————————————————————————

1. What made you decide to study in Taiwan?

(English)

It has been a dream of mine, since I was just a little girl, to study abroad in other country. Back then, I haven’t exactly decided on which country should I choose to study or what kinds of subject should I pursue. Growing through the years, my love for studying has only continued to flourish, even until now. In my university, back in Indonesia, there is a double degree program for master students to have one year experience in Taiwan. To be honest, I was scared to join this program. I can’t speak Chinese and if I decided to go, it would be my first time living so far away from my parents. But curiosity got the best of me and I decided to conduct my own little research of Taiwan. I explored the internet about the universities here, the environment, the culture and the most important thing for me, the food. From what I’ve studied (through internet), I’ve come to learn and love Taiwan. It’s such a beautiful country to live in, with rich cultural background too. The environment here is safe and healthy, especially during crisis times like this due to COVID-19. I admired Taiwan because the government handled COVID-19 spectacularly so that there is little chance for new victims. So, even though I was terrified of what may come in the future, I decided to come and study in Taiwan. I love this place and I think to myself, what’s the worst that could happen? I am sure and I believe that only the best things will come to me in Taiwan.

(Indonesian) 

Sudah menjadi impian saya, sejak saya masih seorang gadis kecil, untuk pergi menimba ilmu di negara lain. Dulu, saya belum menentukan tepatnya negara mana yang saya harus tuju atau topik pendidikan macam apa yang ingin saya kejar. Bertumbuh selama bertahun-tahun, cinta saya untuk belajar hanya tetap berkembang, bahkan hingga sekarang. Di universitas saya yang berada di Indonesia, kebetulan terdapat program double degree bagi mahasiswa master untuk memiliki pengalaman belajar selama 1 tahun di Taiwan. Jika harus jujur, saya sebenarnya takut untuk mengikuti program ini. Saya tidak fasih berbahasa China dan jika saya memutuskan untuk pergi, maka untuk pertama kalinya saya akan hidup sendiri jauh dari orang tua. Tetapi akhirnya, rasa ingin tahu lebih besar daripada rasa takut dan saya memutuskan untuk melakukan sebuah riset kecil tentang Taiwan. Saya menelusuri internet tentang universitas yang ada disini, lingkungan, budaya dan hal yang paling penting bagi saya, pangan. Berdasarkan apa yang saya peroleh dari internet, saya menjadi belajar banyak dan mulai mencintai Taiwan. Menurut saya, Taiwan adalah negara yang indah dengan latar belakang budaya yang kaya. Lingkungan disini tergolong sangat aman dan sehat, terutama selama periode krisis seperti sekarang akibat COVID-19. Saya mengagumi Taiwan karena pemerintahan disini menangani COVID-19 dengan sangat baik sehingga potensi adanya korban baru dapat diminimalisir. Jadi, meskipun saya masih merasa takut tentang apa yang akan terjadi di masa depan, saya memutuskan untuk datang dan belajar di Taiwan. Saya mencintai tempat ini, dan dalam benak saya, apa hal terburuk yang mungkin terjadi? Saya yakin dan percaya, hanya hal-hal terbaik yang akan datang ke saya selama di Taiwan.

 

2.  Briefly tell us about the program you are studying. What subjects are you studying? What have you enjoyed the most in your studies?
(English)

I am currently studying in Food and Nutrition Department, Division of Food Science and Biotechnology. To put it simply, our department researched on things related to food and the technology surrounding it. From these researches, we can improve our food and our health in order to have better future. The subjects I am studying this semester are only few, because master degree program doesn’t have that much credits and subjects, compared to bachelor degree program. Advanced Health and Nutrition, Meat Science and Technology, Seminar, Molecular Biotechnology, and also Independent Study are the subjects for this semester. The topics of said subjects are exactly like what the titles suggest. For Independent Study, I am doing my research for my thesis which is about this little Brazilian berry called Jaboticaba and its health benefits to inflammatory on zebrafish. Since my department’s subjects are about science, most people would think that it is difficult and not enjoyable. The difficult part is true, at least for me. But it doesn’t mean that it is not enjoyable. I feel challenged by the subjects here and since Taiwan is different from Indonesia, the issue and trend on my studies also changed. For example, I’ve come to learn about the meat science of pork here. In Indonesia, I can’t study it as much because it is considered as haram. It is refreshing and a good learning opportunity for me.

(Indonesian) 

Sekarang, saya sedang belajar di Departement Food and Nutrition, Divisi Food Science and Biotechnology. Secara sederhana, departemen kami melakukan riset pada hal-hal yang berkaitan dengan pangan dan teknologi yang meliputinya. Dari berbagai riset tersebut, kami dapat mengembangkan pangan dan kesehatan kita demi masa depan yang lebih baik. Mata kuliah yang saya ambil pada semester ini hanya sedikit, karena program master memang tidak memiliki sebanyak kredit dan mata kuliah, jika dibandingkan dengan program sarjana. Advanced Health and Nutrition, Meat Science and Technology, Seminar, Molecular Biotechnology, dan juga Independent Study adalah mata kuliah yang saya ambil di semester ini. Topik dari berbagai mata kuliah tersebut sesuai dengan namanya. Untuk Independent Study, saya melakukan riset untuk tesis saya tentang buah kecil dari Brazil bernama Jaboticaba dan manfaatnya bagi peradangan pada ikan zebra. Mata kuliah di departemen saya tidak lepas dari sains, sehingga kebanyakan orang mungkin berpikir bahwa ini akan sulit dan tidak menyenangkan. Harus saya akui, bahwa sains memang sulit, setidaknya bagi saya. Tapi bukan berarti bahwa mempelajari sains tidak menyenangkan.  Saya merasa tertantang dengan mata kuliah yang ada di sini dan berhubung Taiwan berbeda dengan Indonesia, isu dan trend yang ada di sini juga berbeda. Sebagai contoh, saya banyak belajar tentang daging babi dan sains di baliknya. Di Indonesia, saya tidak dapat belajar banyak tentang ini karena daging babi dinilai sebagai haram. Menurut saya, ini merupakan kesempatan belajar yang baik dan berbeda.

3. How does studying in Taiwan compare with studying in your home country (e.g., teaching quality, environment, school equipment, facilities, etc.)?

(English)

Indonesia is my home country and of course, it has special place in my heart. Though I have to admit, studying in Taiwan has been a wonderful experience so far. The teaching quality is more or less the same, but I love how caring my professors in Taiwan are. They taught me not only lessons about the curriculum, but also about the culture here. From my lecturers, I know how warm Taiwanese people can be. The school environment here quite differs from Indonesia. The first thing to note is I love how clean and organized the environment is. In Indonesia, most people tend to litter and don’t really care about the environment so you can see some places to be dirty and just not fit for studying. I can also feel how fresh the air here compared to Indonesia because everyone here mostly use public transportation like bus, instead of personal vehicles like in Indonesia. About the school equipment and facilities, I feel that this place is way more advanced than in Indonesia. The thing that fascinates me the most is the laboratory here. It has way more equipments and they are also way more advanced, it really helps me to do my research better. From what I’ve wrote, you may think that I’m sugar-coating my words to make Taiwan look great, but please rest assured that what I’ve written is the truth about the condition here and in Indonesia.

(Indonesian)  

Indonesia adalah negara asal saya, dan tentu saja negara tersebut memiliki tempat spesial di hati saya. Meskipun harus saya akui, belajar di Taiwan merupakan pengalaman yang menyenangkan sejauh ini. Kualitas mengajar di Taiwan dan Indonesia kurang lebihnya sama, namun saya suka betapa pedulinya para dosen di sini. Mereka mengajarkan saya tidak hanya pelajaran dari kurikulum yang ada, tapi juga tentang budaya yang ada di sini. Dari para dosen, saya menjadi tahu betapa hangatnya orang Taiwan. Lingkungan sekolah di sini cukup berbeda dari Indonesia. Salah satu hal yang menarik adalah lingkungan yang bersih dan tertata rapi di sini. Di Indonesia, kebanyakan orang suka untuk membuang sampah sembarangan dan tidak terlalu peduli dengan lingkungan sehingga beberapa tempat terlihat kotor dan kurang cocok untuk digunakan belajar. Saya juga merasakan betapa segarnya udara di sini dibandingkan dengan Indonesia, karena hampir semua orang di sini menggunakan transportasi publik seperti bus dan bukan kendaraan pribadi seperti di Indonesia. Tentang peralatan sekolah dan fasilitas, saya merasa bahwa tempat ini lebih berkembang daripada Indonesia. Hal yang paling mengagumkan bagi saya di sini adalah laboratoriumnya. Lab di sini memiliki lebih banyak peralatan dan tentu saja lebih berkembang, sehingga sangat membantu saya dalam melakukan riset. Dari apa yang saya tulis, mungkin anda akan berpikir saya hanya membual untuk membuat Taiwan terlihat lebih hebat. Tapi tenang, semua yang saya tulis adalah kebenaran yang saya alami baik di Taiwan maupun di Indonesia.

4.  What has been the greatest challenge you faced in applying to study in Taiwan? How did you overcome this challenge?

(English)

To be honest, I faced little to no difficulty in applying to study here since my university, Soegijapranata Catholic University, has a work pact with Providence University. If I had to say, the greatest challenge for me in applying to study here would be the language. I did study little bit of Chinese when I was young, but I am ashamed to say that I can’t quite memorize the language. It was hard to discuss things about my thesis with my advisor, because this language barrier often makes us have misunderstandings. I can’t hardly say that I have overcome this challenge because my Chinese at the moment is sloppy at best, but attending Chinese class and speaking with my friends help a lot. It makes me more fluent and I hope to be better at speaking and undestanding Chinese.

(Indonesian)  

Jujur, saya hanya mengalami sedikit kesulitan saat mendaftar untuk belajar di Taiwan karena universitas saya, Unika Soegijapranata, memiliki kontrak bersama dengan Providence University. Jika saya harus memilih, maka tantangan terbesar saya adalah bahasa yang digunakan di sini. Memang saya pernah belajar sedikit bahasa China saat masih belia, namun saya malu untuk mengakui bahwa saya tidak dapat menguasai bahasa ini.  Cukup sulit untuk mendiskusikan tesis saya dengan dosen pembimbing saya, karena terkadang penghalang bahasa membuat banyak kesalahpahaman di antara kami. Saya tidak bisa bilang bahwa saya sudah menangani tantangan ini karena bahasa China saya sekarang juga tidak terlalu baik, tapi mengikuti kelas bahasa China dan berbicara dengan teman-teman sangat membantu saya. Harapannya, saya dapat berbicara dan mengerti bahasa China lebih baik lagi.

5.  What do you plan to do after you have finish your studies in Taiwan? Would you like to stay in Taiwan?  Why? 

(English)

My long term goal in life is to pursue a career in academics, either as researcher or lecturer. In Indonesia, it would be possible to achieve this career with master degree. But I believe, in Taiwan, one must be a PhD graduate student to be able to pursue this career. At the moment, I plan to go back to Indonesia and develop food technology in Indonesia. God knows Indonesia needs more people to develop the country. But if the opportunity ever arise, I would love to go to Taiwan again and pursue a career here. Of course, I would have to study more Chinese to make my life and others easier in here. I think life in Taiwan is nice and this place is a good place for me to flourish. I also want for my family to experience life in here and know what a nice place Taiwan is.

(Indonesian)  

Tujuan hidup jangka panjang saya adalah untuk mengejar karir di bidang akademik, mungkin sebagai peneliti atau sebagai dosen. Di Indonesia, sangat memungkinkan untuk berkarir di bidang ini dengan gelar master. Tetapi seingat saya, di Taiwan, seseorang harus memiliki gelar doktor untuk berkarir di bidang ini. Untuk sekarang, saya berencana untuk kembali ke Indonesia dan ikut membantu mengembangkan teknologi pangan di Indonesia. Tuhan tahu Indonesia membutuhkan lebih banyak orang untuk mengembangkan negara. Namun, jika terbuka kesempatan, saya akan sangat bahagia untuk kembali ke Taiwan dan berkarir di sini. Tentu saja, saya harus lebih banyak bahasa China untuk mempermudah hidup saya dan orang lain. Saya berpikir bahwa kehidupan di Taiwan cukup baik dan tempat ini bisa menjadi tempat yang bagus untuk saya berkembang. Saya juga ingin keluarga saya untuk mengalami kehidupan di sini dan tahu betapa baiknya tempat ini.

6.  How do you think studying in Taiwan can benefit you in your future career?

(English)

Like I mentioned before, I experienced better school life in Taiwan than in Indonesia due to the advanced technology and many other reasons. I can do my reseach better here because there is a lot of equipment I can use, that would benefit my research. Besides that, the professors here have been and I believe, will always be full of support for me. Since Providence University has a lot of international students, I can share and do troubleshooting together with other friends from other countries. It surely expands and broaden my knowledge horizon. With this supportive environment, I am sure I can be the best version of myself.

(Indonesian)  

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kehidupan sekolah saya lebih baik sejak datang ke Taiwan karena teknologi yang lebih maju dan beberapa alasan lain. Saya dapat melakukan riset lebih baik di sini karena banyak alat yang dapat saya gunakan, sangat bermanfaat bagi riset saya. Selain itu, professor yang ada di sini sangat suportif terhadap saya. Providence University memiliki banyak mahasiswa internasional, saya dapat berbagi dan memecahkan masalah bersama dengan teman dari negara lain. Hal ini memperluas wawasan dan pengetahuan saya. Dengan adanya lingkungan yang begitu suportif, saya yakin saya dapat menjadi versi terbaik dari diri saya.

7.  What do you see as your key achievements during your studies in Taiwan?

(English)

My stay in Taiwan just started last month, so there really is not much to tell about my achievements in my study here. Instead, I will tell you about my current thesis research progress. So, my thesis is about Jaboticaba fruit and its anti inflammatory effects on zebrafish. My first few weeks had me do some early preparation of my samples. My lecturer gave me 350 kilograms of jaboticaba fruits for my sample. It was a lot and I had to wash all of those fruits. It was exhausting but I felt content in doing that because it means I am one step closer to my dreams. Then comes the quite difficult part, the peeling part. It takes me and my partner around 5 hours to get only 1 kilogram of peel. My friends said that is a lot for beginners. Still, I can’t help but be disappointed that I only got that much during such long hours. I am currently trying to freeze dry my samples but the machine just somehow doesn’t work right. I hope it will get fixed soon and I would be able to continue my research. Other than my research, I think speaking and holding a conversation with other Taiwanese people is something I would consider to be an achievement. I can only do simple conversation but it is an improvement for me since I literally can’t string words together. I hope I would continue to get better on my Chinese language skills.

(Indonesian)  

Saya baru mulai tinggal di Taiwan sejak bulan lalu, jadi masih belum banyak yang bisa saya ceritakan tentang pencapaian saya selama studi. Jadi, saya akan menceritakan tentang progres tesis saya. Jadi tesis saya meneliti tentang buah Jaboticaba dan efek anti peradangannya pada ikan zebra. Beberapa minggu pertama, saya melakukan preparasi awal untuk sampel saya. Dosen pembimbing saya memberikan 350 kilogram buah jaboticaba. Jumlahnya sangat banyak dan saya harus mencuci semua buah tersebut. Melelahkan, namun sangat memuaskan karena saya berpikir bahwa saya satu langkah lebih maju untuk mencapai mimpi saya. Lalu, datanglah bagian yang lebih sulit, yakni mengupas buah tersebut. Butuh waktu bagi saya dan teman saya sekitar 5 jam untuk mendapatkan 1 kilogram kulit buah. Teman-teman lain bilang bahwa itu cukup banyak untuk pemula. Tetap saja saya merasa sedikit kecewa karena hanya mendapatkan jumlah sedikit selama kerja sepanjang itu. Saya sedang berusaha untuk melakukan freeze drying pada sampel, namun mesinnya sedang bermasalah sekarang. Saya berharap dapat segera diperbaiki dan melanjutkan penelitian saya. Selain penelitian, saya berpikir bahwa berbicara dengan orang Taiwan adalah sesuatu yang saya anggap sebagai pencapaian.  Saya hanya bisa melakukan percakapan sederhana, namun itu merupakan peningkatan bagi saya karena merangkai kata-kata saja sudah cukup memusingkan. Saya berharap saya dapat memperbaiki kemampuan bahasa saya.

8. What advice do you have for other foreign students who may want to come to Taiwan to study?

(English)

Since my weakness is language, I strongly advised for other foreign students to learn at least basic Chinese. It would help a lot with surviving in Taiwan, because you can communicate better with other people here. Even if you have difficulties on learning the language, I already experienced myself how helpful the people here so there is actually no need to worry. Other than that, I think everyone should have open mind and great preserverance since going to a new country can test your mental strength. I experienced a bit of cultural shock in here since a lot of things are different from Indonesia. But if you have open mind and great preserverance, you can handle things here just fine. Things won’t be easy, but I can assure you that it would be worth it in the end.

(Indonesian)  

Karena bahasa adalah kelemahan saya, saya sangat menyarankan bagi teman-teman lain untuk mempelajari setidaknya bahasa China dasar. Akan sangat membantu untuk bertahan hidup karena dapat berkomunikasi dengan orang lain disini. Meskipun ada kesulitan dalam mempelajari bahasanya, saya sudah merasakan sendiri bantuan dari orang-orang di sini, jadi tidak perlu khawatir. Selain itu, saya pikir teman-teman harus memiliki pikiran yang terbuka dan ketangguhan karena pergi ke negara lain dapat menguji kekuatan mental. Saya mengalami sedikit shock budaya di sini karena banyak sekali hal yang berbeda dari Indonesia. Tetapi jika anda punya pikiran terbuka dan ketangguhan, maka anda akan baik-baik saja. Mungkin akan menjadi sulit untuk menjalani hidup di sini, tapi saya yakin bahwa semuanya akan setimpal di akhir.