新南向國家學生心得分享

想知道國際學生們對於在臺灣唸書有什麼想法和感受?您一定要聽聽他們的故事。

Charissa Ardelia/ Overseas Chinese University

From : Indonesia
Major : Business Administration

8B4AFCA2-41ED-462D-AF13-DB650CFD0CBF - Charissa Ardelia.jpg
 

My name is Charissa Ardelia, a foreign student from Indonesia. I was born on 8 November 1997. I came to Taiwan in December 2017, to learn Chinese Mandarin in Fengchia Chinese Language Center, Taichung. After a year, I decided to stay longer in Taiwan and attend university in Overseas Chinese University, Taichung.

Nama saya Charissa Ardelia, mahasiswa asing yang berasal dari Indonesia. Saya lahir pada 8 November 1997. Saya datang ke Taiwan pada Desember tahun 2017, dengan tujuan belajar bahasa Mandarin di Feng Chia University Chinese Language Center di kota Taichung. Setelah belajar bahasa selama setahun, saya memutuskan untuk tinggal lebih lama di Taiwan untuk melanjutkan pendidikan S1 saya di Overseas Chinese University, Taichung.

————————————————————————————————————————————————————————————————————————

1. What made you decide to study in Taiwan?

(English)

I initially came to Taiwan with the purpose of attending Chinese Language Center only for 6 months. Little did I know, 6 months would stretch to a year, and what supposed to be only learning Chinese stretched into a 2,5 years of obtaining a Bachelor degree. I decided to choose Taiwan to learn Chinese language, instead of other Chinese-speaking countries like Mainland China and Hong Kong due to several reasons.

Firstly, Taiwan is the only country in the world speaking Chinese Mandarin as its first language with the traditional writing (簡體字). Interested with the complicated, seemingly-difficult yet alluring strokes, I decided to take my chance. Furthermore, I previously have had my time studying abroad in Mainland China for 2 years. After acquiring my Associate degree from an English-speaking program, I thought it was about time for me to experience another country. Lastly, two of my older cousins attended university in Taiwan years ago. One of them in Taipei, and another in Tunghai University, Taichung. The one studied in Taipei got married with a lovely Taiwanese lady and decided to settle down in Hsinchu. He was the one helping me with the enrollment to Fengchia CLC.

(Indonesian) 

Pada awalnya, saya datang ke Taiwan dengan tujuan untuk belajar bahasa Mandarin hanya untuk 6 bulan. Ternyata, 6 bulan yang singkat memanjang menjadi setahun, dan tujuan belajar bahasa pun berkembang menjadi mengejar gelar sarjana selama 2,5 tahun.

Saya memutuskan untuk belajar bahasa Mandarin di Taiwan, dibandingkan dengan negara-negara lain yang berbahasa Mandarin seperti Tiongkok dan Hongkong, karena beberapa alasan.

Pertama, Taiwan adalah satu-satunya negara berbahasa Mandarin di dunia yang masih menggunakan aksara Mandarin tradisional (簡體字). Menurut saya, aksara tradisional sangat menarik, karena punya nilai sejarah yang tinggi. Maka dari itu, saya memilih untuk belajar aksara tradisional.

Selain itu, sebelum saya datang ke Taiwan, saya pernah tinggal di Tiongkok selama 2 tahun untuk mengambil gelar Associate Degree. Program yang saya ikuti berbasis Bahasa Inggris, maka dari itu setelah saya menyelesaikan program tersebut, saya tetap memutuskan untuk belajar khusus bahasa Mandarin secara formal di negara lain.

Dan alasan yang terakhir, dua dari sepupu saya pernah berkuliah di Taiwan. Salah satu dari mereka menikah dengan gadis berkebangsaan Taiwan, dan telah tinggal menetap di Taiwan untuk membangun keluarga. Beliaulah yang membantu saya dalam proses pendaftaran sekolah bahasa pada saat itu.

 

2.  Briefly tell us about the program you are studying. What subjects are you studying? What have you enjoyed the most in your studies?
(English)

I am currently undertaking Bachelor Degree in Business Administration, at Overseas Chinese University, Taichung. However, as I have an Associate degree from my previous studies, I was able to transfer some of the credits. As a result, I will be able to graduate with bachelor degree only in 2,5 years, instead of 4 years.

What I enjoy the most in my studies, honestly, are the challenges. The program I am taking is 100% in Chinese. Only having formally learned the language for a year, it was extremely difficult for me to keep up with the subjects. In spite of the struggles, I am gradually improving my Chinese language skill. In addition, by facing the challenges, I developed in becoming more independent and resilient.

I am grateful to each one of my teachers and classmates who were willing to help me with my studies.

(Indonesian) 

Saat ini, saya sedang mengambil kuliah sarjana dengan jurusan Administrasi Bisnis, di Overseas Chinese University, Taichung. Namun, karena saya telah memiliki gelar Associate degree, saya dapat melakukan transfer kredit. Sehingga saya bisa menyelesaikan pendidikan sarjana saya dalam 2,5 tahun, bukan dalam 4 tahun.

Sejujurnya, yang paling saya nikmati dalam perkuliahan saya, adalah tantangan yang ada. Kegiatan belajar-mengajar yang saya ikuti 100% adalah dalam Bahasa Mandarin. Karena saya hanya pernah belajar Mandarin secara formal selama setahun, maka sangat sulit bagi saya untuk mengikuti pelajaran dengan kemampuan bahasa yang sangat terbatas. Namun, dalam kesulitan saya, saya mendapat kesempatan untuk perlahan-lahan bisa meningkatkan kemampuan bahasa saya. Juga, saya belajar untuk menjadi lebih mandiri dan tahan banting. Saya bersyukur kepada semua dosen maupun teman yang bersedia membantu saya selama masa berkuliah.

3. How does studying in Taiwan compare with studying in your home country (e.g., teaching quality, environment, school equipment, facilities, etc.)?

(English)

As a foreign student, I am not only learning Business Administration as the major I am studying. I am also learning Chinese language and interpersonal communication skills, despite of the language barrier. It is indeed difficult to communicate in more serious situations requiring business-related and industry-related vocabularies, but not impossible. In addition, I obtained personal skills and life lessons valuable for even years ahead. I met and made friends with wonderful locals, which I hope will last forever.

Therefore, I will say the experience of studying in Taiwan is incomparable with studying in my home country. As I often told my friends, I am not only paying for formal education in university, I am also paying for once-in-a-lifetime experience.

As for the environment, Taiwan is the perfect country for studying abroad. The locals are friendly and courteous, the public transportations are extremely convenient, and the school’s facilities are wonderful.

(Indonesian)  

Sebagai seorang mahasiswa asing, saya tidak hanya belajar Administrasi Bisnis selama kuliah. Tapi saya juga belajar bahasa Mandarin, dan juga kemampuan berkomunikasi yang baik meskipun dengan adanya kendala bahasa. Memang sangat sulit untuk dapat berkomunikasi di situasi-situasi yang membutuhkan tata bahasa yang lebih formal, seperti istilah-istilah yang berkaitan dengan bisnis. Sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Selain itu, saya juga belajar banyak pelajaran mengenai kehidupan yang penting bagi saya, bahkan selama tahun-tahun ke depan dalam hidup saya. Saya bertemu dengan banyak orang-orang Taiwan yang menyenangkan, bahkan menjalin pertemanan yang luar biasa dengan beberapa dari mereka.

Maka, saya dapat mengatakan bahwa pengalaman berkuliah di Taiwan tidak dapat dibandingkan dengan berkuliah di negara asal saya sendiri. Seperti yang sering saya katakan pada teman-teman saya sendiri, saya tidak hanya mengeluarkan biaya untuk mendapatkan pendidikan formal di kuliah selama di Taiwan, tapi saya juga mendapatkan pengalaman sekali seumur hidup yang sangat berharga.

Taiwan adalah negara yang cocok untuk mahasiswa asing. Orang-orang lokal ramah dan santun, transportasi publik yang sangat baik, dan fasilitas sekolah tentunya sangat memadai.

4.  What has been the greatest challenge you faced in applying to study in Taiwan? How did you overcome this challenge?

(English)

When I first applied to study in OCU, there were numerous problems to solve.

Firstly, I almost could not transfer credits from my previous study. Reason being, my previous college was located in Mainland China. It was an Australian-based school cooperating with a local college in Mainland China. Even though my degree certifications were issued by the Australian flagship campus, but the physical location of where I attended the campus was an issue due to Taiwan and Mainland Chinese political relationships. I had to make contacts with both of the Australian and Chinese campuses to help me legalize the documents.

Secondly, only after the documents-related issues were solved I found out that the program I intended to attend is 100% taught in Chinese. Initially being told that it was partially in English, I was truly worried that I would not be able to keep up with the subjects with my current not-so-fluent Chinese language skill. However I thought it would be a good chance for me to challenge myself, and I decided to still take the program.

(Indonesian)  

Ketika saya memulai proses pendaftaran di kampus OCU, ada beberapa masalah cukup rumit yang saya hadapi.

Pertama, saya hampir saja tidak dapat mentransfer kredit satupun, dari kuliah saya yang sebelumnya. Hal ini dikarenakan, universitas saya yang sebelumnya berlokasi di Tiongkok. Meskipun universitas tersebut berpusat di Australia dan ijasah saya dikeluarkan oleh kampus pusat di Australia, tapi lokasi fisik dari tempat saya berkuliah pada saat itu menjadi masalah besar, berkaitan dengan hubungan politik yang rumit di antara negara Tiongkok dan Taiwan. Sehingga, saya harus melakukan banyak hal, seperti menghubungi kampus pusat di Australia maupun kampus di Tiongkok, untuk membantu saya melegalisir ijasah.

Kedua, setelah saya dapat menyelesaikan masalah ijasah saya, saya baru menyadari bahwa program kuliah yang akan saya ambil, akan menggunakan Bahasa Mandarin 100%. Sebelumnya, saya diberitahu bahwa sebagian dari kegiatan belajar-mengajar menggunakan bahasa pengantar Inggris. Maka, ketika saya menyadari hal tersebut, saya sangat khawatir tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik, karena kendala bahasa. Tapi saya dan keluarga berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang baik untuk saya menantang diri saya untuk belajar hal-hal baru, sehingga saya memutuskan untuk tetap mengikuti program tersebut.

5.  What do you plan to do after you have finish your studies in Taiwan? Would you like to stay in Taiwan?  Why? 

(English)

Taiwan is an amazing country. It has excellent public structures and medical facilities. It is convenient to live at, not to mention the number of convenient stores existing and the efficient public transportations.

Undoubtedly, I would like to stay in Taiwan. That is, if I can acquire a decent job. I have heard stories of my friends unable to find jobs in Taiwan, due to the high competition of the fresh graduates trying to get a job. However, I think it is worth to try. I would also love to try and see if I can start my own business, whether it is a small restaurant or a clothing shop. In addition, I would like to contribute more to this admirable country I am living at. I would love to do more social works and community activities like volunteering to organize events for the elders and cleaning public spaces.

(Indonesian)  

Taiwan adalah negara yang luar biasa, dengan fasilitas publik dan kesehatan yang sangat baik. Taiwan adalah salah satu negara yang sangat nyaman untuk ditinggali, apalagi dengan banyaknya mini-market dimana-mana. Di Taiwan, kita dapat melakukan banyak hal di mini-market, seperti memanggil taksi, membeli tiket, dan lain-lain. Juga, transportasi publik yang sangat efisien.

Tentu saja saya ingin dapat tinggal lebih lama di Taiwan, apabila saya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Beberapa kali saya mendengar cerita dari teman-teman saya yang kesulitan mendapatkan pekerjaan di Taiwan, karena kompetisi mencari lapangan pekerjaan sangat tinggi. Bagaimanapun, saya tetap akan mencoba untuk mencari pekerjaan, segera setelah saya lulus kuliah. Atau, saya ingin mencoba untuk memulai bisnis saya sendiri. Seperti membuka restoran, atau bisnis ritel pakaian. Selain itu, saya ingin untuk berkontribusi lebih lagi kepada negara Taiwan, tempat saya hidup sekarang. Saya ingin mengerjakan lebih banyak kegiatan sosial dan menjadi relawan, seperti mengorganisir kegiatan untuk lansia, atau membersihkan tempat-tempat umum.

6.  How do you think studying in Taiwan can benefit you in your future career?

(English)

In Indonesia, Taiwan is one of the countries known for studying abroad. Thus, if I decide to go back home to work, my degree from OCU will certainly be beneficial. Also, having studied in Taiwan means getting an opportunity to learn Chinese language in the local environment. Chinese Mandarin is currently one of the most spoken languages in the world. It is even known as the second international language, after English. Business owners gradually demand Chinese language skills from their employees. In conclusion, studying in Taiwan will be advantageous for my future career, no matter where in the globe will I decide to go to.

(Indonesian)  

Di Indonesia, Taiwan dikenal sebagai salah negara tujuan untuk berkuliah di luar negeri. Maka, jika saya kembali ke Indonesia untuk bekerja setelah lulus kuliah, ijasah yang saya dapatkan dari OCU akan sangat berguna. Apalagi selama hidup beberapa tahun di Taiwan, saya sudah meningkatkan kemampuan berbahasa saya di lingkungan yang memang berbahasa Mandarin. Kemampuan Bahasa Mandarin sangat penting untuk dimiliki saat ini, mengingat Mandarin adalah bahasa internasional kedua yang paling banyak digunakan setelah Inggris. Dan kemampuan ini sangat dibutuhkan di banyak lapangan pekerjaan. Sebagai kesimpulan, berkuliah di Taiwan akan sangat bermanfaat untuk karier saya di masa depan, tak peduli ke negara mana pun saya akan pergi untuk bekerja.

7.  What do you see as your key achievements during your studies in Taiwan?

(English)

I would say that there are several achievements that I personally value.

First, I succeeded in learning to write and read in Traditional Chinese. Not very fluent, obviously as I am still trying to improve. But, an achievement in life nonetheless.

Second, I finished 2 semesters in OCU so far with good scores. As the subjects were taught in Chinese, with rather complicated business-related vocabularies that I am not fluent in, it is an achievement for me personally.

Third, I am currently supporting myself with teaching English part time. Taiwan’s government is generous by allowing foreign students to work part time, only if complying to the law. Thus I am able to be independent financially, even if I am still a student.

(Indonesian)  

Ada beberapa pencapaian yang saya pribadi sangat hargai.

Pertama, saya berhasil belajar baca-tulis dengan aksara Mandarin Tradisional. Meskipun belum lancar, karena saya masih tetap belajar sampai saat ini. Tapi, bagi saya, ini adalah pencapaian luar biasa dalam hidup saya.

Kedua, saya telah menyelesaikan 2 semester di OCU, dengan nilai yang memuaskan. Dengan kendala bahasa yang cukup signifikan, ini adalah pencapaian bagi saya.

Ketiga, saat ini saya membiayai hidup saya sendiri dengan bekerja paruh waktu sebagai seorang pengajar Bahasa Inggris. Pemerintah Taiwan mengijinkan mahasiswa asing untuk bekerja paruh waktu, dengan ketentuan-ketentuan yang harus ditaati. Maka, saya bangga bisa mandiri secara finansial, meskipun saya masih berkuliah.

8. What advice do you have for other foreign students who may want to come to Taiwan to study?

(English)

I would absolutely encourage everyone to do so. It might be hard to adapt in the beginning due to language barrier and culture shock. Difficulties in communicating, having to adapt to the cultural differences, getting used to different taste of food, feeling of home sick, are some of the normal challenges to face on the first weeks or months living in Taiwan.

However, they will only arise in the beginning of your study here. After some time, you would have made friends with very welcoming Taiwanese, visited a lot of incredible night markets, and tasted delightful traditional cuisines. By then, you will not be home-sick all the time. And as time goes by, you will not realize that you had thought of this lovely country as a second home.

(Indonesian)  

Saya mendukung semua calon mahasiswa asing yang berencana datang ke Taiwan untuk kuliah. Pada masa-masa awal kedatangan, mungkin akan ada kesulitan untuk beradaptasi dengan perbedaan budaya dan bahasa. Banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti sulitnya berkomunikasi dengan bahasa yang sama sekali lain, beradaptasi dengan budaya lokal, perbedaan rasa makanan, dan rindu rumah. Tapi tantangan-tantangan ini adalah normal, yang dihadapi setiap mahasiswa asing selama minggu-minggu atau bulan-bulan awal datang ke Taiwan.

Setelah beberapa waktu berlalu, kesulitan-kesulitan tersebut akan berlalu. Kamu akan menjalin pertemanan dengan orang-orang lokal, mengunjungi banyak pasar malam yang seru, dan mencoba banyak masakan tradisional yang lezat. Dan ketika semua ini sudah terjadi, kamu tidak akan selalu merindukan rumah, seperti dulu awal ketika datang ke Taiwan. Bahkan, kamu akan menyadari bahwa ternyata kamu telah menganggap Taiwan sebagai rumah kedua.