新南向國家學生心得分享

想知道國際學生們對於在臺灣唸書有什麼想法和感受?您一定要聽聽他們的故事。

Sie Elvira Nydia Setiawan/ National ChengChi University

From : Indonesia
Major : Department of International Business


983327 - Elvira Sie.jpg

 

Hi, my name is Sie Elvira and people usually call me Vira. I was born and raised in Indonesia. I am 18years old and still pursuing my degree in International Business in National Cheng Chi University in Taipei. I am the oldest child in my family with one younger sister. As a teenage girl, I love doing make up and dancing. Growing up in a country with the variety of different traditions gives me the opportunity to enhance my dancing skill and to perform on a talent show in Taiwan, representing my home country. As a person, I see myself as someone who is logical, idealistic and appreciates honesty.

Halo, nama saya Sie Elvira, biasa dipanggil Vira. Saya lahir dan dibesarkan di Indonesia. Usia saya 18 tahun, sekarang sedang menempuh pendidikan Sarjana Strata 1 program studi Bisnis Internasional di Universitas National Cheng Chi, Taipei. Saya adalah anak sulung dan memiliki seorang adik perempuan. Merias wajah dan menari merupakan hobi saya. Tumbuh di negara multikultural memungkinkan saya untuk belajar dan mengasah bakat menari saya hingga berkesempatan untuk tampil mewakili Indonesia di acara pertunjukan bakat di Taiwan. Saya melihat diri saya sebagai pribadi yang logis, idealis, dan menjunjung tinggi kejujuran.

————————————————————————————————————————————————————————————————————————

1. What made you decide to study in Taiwan?

(English)

Actually I never expected myself to pursue my bachelor degree in Taiwan because I don’t speak Chinese at all. But then, I heard about the Institution where I am studying now and I was fascinated with all the acknowledgement and accreditation it got. I decided to challenge myself because I realized that all the good things in life didn’t come from the comfort zone. Coming to Taiwan a year ago was the best decision in my life. My circle of friends which used to consist of people from the same city turned into a group of people from another part of the world. Gaining more connection and learn to be independent was such a priceless experience.

(Indonesian) 

Sejujurnya saya tidak pernah melihat saya akan menempuh studi di Taiwan karena saya tidak bisa berbahasa Mandarin. Namun, saya menemukan beberapa info tentang Unversitas Nasional Cheng Chi dan saya tertarik. Saya memutuskan untuk menantang diri saya karena saya yakin bahwa hal-hal yang baik ada di luar zona nyaman. Dan benar saja, datang ke Taiwan setahun yang lalu merupakan keputusan terbaik yang pernah saya buat. Lingkungan pertemanan saya menjadi lebih luas, bahkan saya mendapatkan banyak teman dari banyak negara. Memiliki banyak teman baru dan belajar menjadi mandiri merupakan pengalaman yang tidak ternilai harganya.

 

2.  Briefly tell us about the program you are studying. What subjects are you studying? What have you enjoyed the most in your studies?
(English)

Currently I am pursuing my degree on International Business. In this program I learned about business in international scale. For me, learning business is quite challenging considering that my major was science on high school. Nevertheless, I never feel distressed because all of commerce students should start from the basic subjects which are economics, accounting and calculus. As an ordinary student, of course I still got some materials which I don’t really understand but I got wonderful teachers in my school. Meeting new people and making new friends in class really makes me happy. In fact, my friends are the ones who always help me during my study. They are always there to support me. I am so glad to enroll to NCCU because if I didn’t, I wouldn’t be able to meet such wonderful people.

(Indonesian) 

Program studi yang sedang saya tempuh saat ini adalah Bisnis Internasional. Saya belajar banyak tentang Bisnis di dunia Internasional disini. Menurut saya, belajar bisnis cukup menantang mengingat waktu SMA saat peminatan saya memilih IPA. Meski demikian, saya tidak pernah merasa kewalahan karena semua murid harus mulai belajar dari pelajaran dasar yaitu ekonomi, akuntansi, dan kalkulus. Sebagai murid tentu saja tetap ada materi yang saya kurang paham, namun para dosen di universitas benar-benar membantu saya dalam setiap kesulitan pelajaran. Teman-teman sekolah saya juga selalu menolong dan mendukung saya. Saya bersyukur dapat belajar di NCCU karena tanpa ini, saya tidak bisa bertemu teman dan guru yang luar biasa.

3. How does studying in Taiwan compare with studying in your home country (e.g., teaching quality, environment, school equipment, facilities, etc.)?

(English)

The learning method between Taiwan and Indonesia is really different. Here in Taiwan, 90% of my classes have the discussion sessions, which let students exchange perspectives with one another to learn something new. Back in Indonesia, teachers rarely gave projects in groups, and preferred to let students do a weekly report. The school facilities in Taiwan is definitely better than in Indonesia. My campus is located in the suburb which has 250 acres of land. With that huge area, of course it has more space for a lot of different buildings, such as class buildings, theatre, big gymnasium, swimming pool, running track and dormitory. Most universities in Indonesia don't provide dormitory, so students must find their own residence, while here in Taiwan, dormitory is mostly provided by the University. I think living in dormitory makes it easier for me to adapt through my university life, especially when I first came here.

(Indonesian)  

Metode belajar yang digunakan di Taiwan dan Indonesia sangat berbeda. Di Taiwan, 90% kelas saya memiliki sesi diskusi yang memungkinkan para siswa bertukar pikiran dan belajar sesuatu yang baru. Di Indonesia, guru jarang memberi tugas kelompok dan lebih sering memberi tugas laporan mingguan. Fasilitas sekolah di Taiwan juga sangat berbeda dengan di Indonesia. Kampus saya di Taiwan terletak di pinggir kota dan memiliki lahan yang sangat luas. Di sekolah saya terdapat gedung kelas, gedung teater, gedung olahraga, kolam renang, trek lari dan asrama. Kebanyakan universitas di Indonesia tidak menyediakan asrama, jadi para siswa harus mencari tempat tinggal mereka sendiri. Di taiwan, universitas menyediakan asrama dan menurut saya hal ini sangat membantu proses penyesuaian diri, terutama saat pertama kali datang ke Taiwan.

4.  What has been the greatest challenge you faced in applying to study in Taiwan? How did you overcome this challenge?

(English)

My greatest challenge was the language and the registration process. As a Chinese Indonesian, my family didn’t teach me to speak Mandarin and the only language I could speak beside my mother language is English. I tried to download the registration form and the requirement and I expect that it would have the English copy but apparently it didn’t. On that moment I thought that I will find an agency to help me handle my registration because at that time I am still dealing with a lot of exams before graduation. However, there was no agency that could manage the registration for the overseas Chinese program to Taiwan in my hometown since it is a small city. I was faced with 2 choices, whether to choose other country or just continue but I need to do it myself. Then, I chose to continue and luckily I found a Mandarin teacher which helped me a lot during the registration process. But then, the bigger problem appears, the fact that I didn’t even understand the registration, made me started thinking of what will happen to me if I got accepted and went to class. On the other side, I wanted to go to top ranked university, which requires me to speak, listen, write and read Chinese well. I made the decision to took a year off and went to Taiwan to learn Chinese. A year later, I am enrolled into the best University to learn Business in Taiwan. Valuable lesson that I got from this experience is it’s okay to take a step back in order to take a thousand steps forward.

(Indonesian)  

Tantangan terbesar saya adalah bahasa dan proses registrasi. Sebagai seseorang keturunan Tionghoa, orangtua saya tidak pernah mengajarkan saya berbahasa Mandarin dan bahasa yang saya kuasai selain bahasa ibu saya hanyalah Bahasa Inggris. Pada waktu itu, saya mencoba mengunduh formulir pendaftaran dan persayaratan. Saya pikir formulir bahasa inggris akan tersedia tapi ternyata tidak ada. Lalu saya berpikir untuk mencari agen pendidikan untuk membantu proses pendaftaran saya karena waktu itu saya masih sibuk dengan ujian sekolah dan ujian nasional. Setelah mencari, ternyata tidak ada agensi yang bisa membantu saya dalam pendaftaran kuliah di Taiwan jalur overseas chinese karena kota tempat saya tinggal merupakan kota kecil. Saya dihadapkan pada dua pilihan yaitu memilih negara lain atau tetap lanjut meskipun harus melakukan semuanya sendiri. Saya memilih untuk lanjut. Selanjutnya, saya menemukan guru bahasa Mandarin yang sangat membantu saya dalam proses registrasi. Lalu saya berpikir, kalau saya bahkan tidak bisa menjalankan proses registasi, bagaimana nanti saat kuliah? Disisi lain, saya juga mau masuk ke perguruan tinggi bergengsi yang tentu saja membutuhkan level bahasa Mandarin yang bagus. Akhirnya, saya membuat keputusan mengambil cuti setahun untuk belajar bahasa Mandarin. Setahun kemudian, saya diterima sebagai murid di universitas terbaik di Taiwan untuk belajar Bisnis. Pelajaran yang saya dapat dari pengalaman tersebut adalah tidak apa mundur selangkah untuk maju seribu langkah.

5.  What do you plan to do after you have finish your studies in Taiwan? Would you like to stay in Taiwan?  Why? 

(English)

My parents always state that I am an independent human being, that I am free to choose what kind of future I want to live in. I would like to stay in Taiwan after I graduate from my bachelor degree to build my career. The reason I believe that I have better career opportunities in Taiwan is that everyone in Taiwan recognizes how prestigious my alma mater is. If I went back to Indonesia, people would only know that I graduated from Taiwan and that’s it. Desire to seek working experience outside the country is also one of the factors. Of course, I want to go back to and contribute to the country where I grew up but I don’t want to rush. The future that I want to create may not be easy but I believe that we can do anything if we really mean it.

(Indonesian)  

Orang tua saya selalu mengatakan bahwa saya bebas untuk menentukan masa depan saya sendiri. Rencana saya setelah lulus dari perguruan tinggi adalah berkarir di Taiwan. Alasan saya ingin tetap di Taiwan adalah karena saya punya almamater yang bagus, sedangkan jika saya pulang ke Indonesia, orang-orang hanya akan menganggap saya sebagai “lulusan Taiwan” dan tidak ada yang spesial dari itu. Faktor lainnya adalah saya ingin mencari pengalaman bekerja di luar negri. Tentu saya ingin kembali ke Indonesia namun saya tidak terburu-buru. Masa depan yang saya impikan mungkin tidak mudah, namun saya percaya kita bisa melakukan apapun jika kita mau.

6.  How do you think studying in Taiwan can benefit you in your future career?

(English)

In my opinion, to have a better career we need to be unique to stand out from the crowd. In order to do that, everyone must improve themself in three aspects, which are skills, connection, and experience. Studying in Taiwan enables me to attain those three aspects simultaneously. Now I can speak three languages and two of them are the most used language in the world, I know a lot of friends from different countries, and the experience of studying abroad made me realized that I need to depend more on myself and respect other people's opinion because they have their own perspective. Even though it is not easy, I still try my best to improve them every day.

(Indonesian)  

Menurut saya, untuk memiliki karir yang bagus kita perlu menjadi pribadi yang unik, memiliki sesuatu yang berbeda dari yang lain. Untuk itu, semua orang perlu mengembangkan dirinya dalam tiga aspek yaitu skill, koneksi, dan pengalaman. Belajar di Taiwan memungkinkan saya mengembangkan ketiga hal tersebut bersamaan. Sekarang saya bisa berbicara tiga bahasa dan dua diantaranya merupakan bahasa yang paling sering dipakai di dunia. Saya juga memiliki banyak teman dari berbagai negara. Pengalaman belajar di luar negri membuat saya sadar bahwa saya harus bisa mengandalkan diri saya sendiri dan menghargai pendapat orang lain karena setiap oeang memikiki sudut pandang masing-masing. Meskipun tidak mudah, saya masih terus berusaha untuk mengembangkan tiga hal tersebut setiap hari.

7.  What do you see as your key achievements during your studies in Taiwan?

(English)

Getting the chance to learn Chinese is the most important achievement I got since I came to Taiwan. I went to Taiwan with nothing but my passionate heart, I could barely speak, listen, write nor read Mandarin. Being able to speak Chinese really helps me a lot in most of my university life. Also, as a student, I have the freedom to do a part-time job here and the most important requirement to apply for a job is that to be able to read, speak, and listen to Mandarin. Well, my Mandarin is not that fluent, but it gives me the ability to communicate with more people whether in Taiwan or any Chinese speaking language.

(Indonesian)  

Berkesempatan untuk belajar bahasa Mandarin adalah pencapaian terpenting sejak saya datang ke Taiwan. Saya datang ke Taiwan hanya dengan modal nekat, sama sekali tidak bisa bahasa Mandarin. Bisa berbahasa Mandarin sangat membantu kehidupan saya disini. Di Taiwan, pelajar boleh bekerja paruh waktu dan syarat yang paling utama untuk mendapat pekerjaan adalah kemampuan bahasa Mandarin. Meskipun Mandarin saya tidak begitu bagus, namun hal ini membantu saya dalam komunikasi baik di Taiwan maupun di negara manapun yang menggunakan bahasa Mandarin.

8. What advice do you have for other foreign students who may want to come to Taiwan to study?

(English)

Before you came to Taiwan, you really need to consider your choice well and prepare your mind to make sure you will finish your studies because studying abroad is not as easy and as fun as it seems. Going to school abroad is 40% fun and 60% hard work especially if you are like me, the one whose Chinese is not that good. Going abroad means you are separated from your family and high school friends, you must finish your own problem and stand on your own feet. Homesickness is real and there’s nothing you can do about it but you need to be focus and be brave. Getting out from your comfort zone is really hard but everything is going to be okay and this too will pass, and someday after that, you’ll realize that you’ve changed to a better version of yourself.

(Indonesian)  

Sebelum datang ke Taiwan kamu wajib mempertimbangkan matang-matang pilihanmu untuk memastikan bahwa kamu akan menyelesaikan studimu dengan baik karena  bersekolah di luar negri tidak semudah dan menyenangkan seperti di cerita orang-orang. Bersekolah di luar negri itu 40% menyenangkan dan 60% kerja keras, apalagi jika kamu seperti saya, yang kemampuan Bahasa Mandarinnya tidak begitu bagus. Pergi ke luar negri artinya kamu berpisah dari keluarga dan teman-temanmu, harus mampu menyelesaikan masalahmu dan berdiri di kaki sendiri. Kamu mungkin akan selalu kangen rumah, tapi tidak ada yang bisa kamu lakukan, namun kamu harus tetap fokus dan berani. Keluar dari zona nyaman memang susah, tapi percayalah bahwa semua akan baik-baik saja dan ini akan berlalu, pada akhirnya suatu hari kamu akan menyadari bahwa kamu telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik.