新南向國家學生心得分享

想知道國際學生們對於在臺灣唸書有什麼想法和感受?您一定要聽聽他們的故事。

Ovy Nugraheni Florentina/ Wenzao Ursuline University of Languages

From : Indonesia
Major : International Affairs

 Indonesian Club Activity_edi.jpg

My name is Ovy Nugraheni Florentina. I am 21-year-old Indonesian girl who loves singing and solo traveling. I grow up in a small family because I am the only child. My parents do not officially work anymore, my father does volunteer in a maritime academy in Cilacap, Indonesia and my mother is a housewife. I was born in Bekasi, West Java, Indonesia and spent 15 years there. Then I moved to Solo, Central Java to pursue my high school diploma and to study in language major. After that, I applied for a scholarship at Wenzao Ursuline University of Languages and got accepted to study International Affairs.

Nama saya Ovy Nugraheni Florentina, saya berumur 21 tahun dan berasal dari Indonesia. Hobi saya adalah bernyanyi dan travel solo (bepergian sendiri). Saya berasal dari keluarga kecil karena saya anak semata wayang. Kedua orang tua saya tidak bekerja lagi, Ayah menjadi sukarelawan di akademi maritim di Cilacap dan Ibu adalah ibu rumah tangga. Saya lahir di Bekasi, Jawa Barat dan sudah 15 tahun bersekolah di sana. Lalu, saya pindah ke Solo, Jawa Tengah ketika SMA dan mengambil jurusan bahasa. Setelah lulus SMA, saya mendapat beasiswa dari Wenzao Ursuline University of Languages untuk belajar hubungan internasional.

————————————————————————————————————————————————————————————————————————

1. What made you decide to study in Taiwan?

(English)

It has been my dream to be an international student since I was a teenager, therefore I applied a scholarship in Wenzao Ursuline University of Languages. I always have strong desire to meet new people and learn something new from diversity that I might not experience if I would have stayed in Indonesia. Before I came to Taiwan, I honestly did not know much information about it. I only knew that it is a small and industrialised East Asian country, however after I reside in Kaohsiung and travel to almost places across Taiwan, it automatically enriches my rationale why I study here. Besides my cosmopolitan dream, Taiwan is actually one of the most welcoming country for foreigners, safe, and dynamic place. Besides it is an excellent country to study, it is also good for my personal growth. It is easy to interact with locals and expats, safe for solo travelling across the island, and good combination of western and eastern culture. So, I perceive that Taiwan does give me the idea of modern society with Chinese cultural background which is relevant to my study in International Affairs.

(Indonesian) 

Alasan utama saya belajar di Taiwan adalah karena sejak kecil saya benar-benar ingin menjadi mahasiswi internasional, maka dari itu saya mengajukan beasiswa di Wenzao Ursuline University of Languages. Saya selalu memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu orang dan hal baru, dari keberagaman yang mungkin tidak akan saya alami jika saya tinggal di Indonesia. Sebelum saya datang ke Taiwan, sejujurnya saya tidak tahu banyak informasi tentang Taiwan, saya hanya tahu bahwa Taiwan adalah negeri industri di Asia Timur. Namun setelah saya tinggal di Kaohsiung beberapa tahun dan pernah mengunjungi berbagai tempat hampir di seluruh Taiwan, secara otomatis memperkaya rasional saya untuk belajar di sini. Selain impian kosmopolitan saya yang selalu ingin eksplor berbagai hal berbeda di negara lain, Taiwan sebenarnya adalah salah satu negara yang paling ramah bagi orang asing, negara yang super aman, dan dinamis. Selain itu, Taiwan adalah negara yang tepat untuk belajar, juga baik untuk pertumbuhan pribadi saya. Mengapa? Karena di Taiwan saya mudah berinteraksi dengan penduduk setempat dan ekspat, aman untuk travel solo, dan Taiwan memiliki kombinasi budaya baik dari budaya barat dan timur. Jadi, saya rasa masyarakat di Taiwan itu modern dengan latar belakang budaya Chinese yang relevan dengan studi saya di Hubungan Internasional.

 

2.  Briefly tell us about the program you are studying. What subjects are you studying? What have you enjoyed the most in your studies?
(English)

I study International Affairs and it is basically about global politics, economics, and culture. I enjoy politics and culture more than economics because I am fascinated with the idea of power and influence. The introduction of non-governmental organizations (NGO) course taught me how small and powerless grassroots organizations require them to be idealistic and assertive, otherwise, their goals would not be achieved. I learn how tough it is to negotiate with local leaders when they do not necessarily agree with the NGOs objectives and are not able to support them financially or mentally. The importance of perseverance and optimism to bravely speak our ideals to a more powerful actor is something I would like to understand. I am a woman and a minority, but I have a dream to be a politician. It is a long way to go and I need such a strategy to bring me there. Another class that I enjoy is the EU Foreign Policy: evolution, issues, and challenges. It makes me able to interpret the actorness of regional integration and how the EU reacts to the emerging power of China, India, and Brazil. Besides, as a Southeast Asian student, I regard that the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) is just different from the EU, in terms of goals and structure of their existence. It taught me that politics is complex and full of interests which is not necessarily bad, but it is something when human nature is combined with the intelligence to fight for recognition. I might be politicized but this is just my way to understand how the world works of pursuing the hegemonic position, which sometimes covered by the idea of development, humanitarian aid, global strategy, etc.

(Indonesian) 

Menjadi mahasiswi internasional yang pada dasarnya tentang politik, ekonomi, dan budaya membuat saya terpesona dengan gagasan akan kekuasaan (power) dan pengaruh (influence) terhadap orang lain. Sama halnya seperti memahami proses kerja Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di salah satu kelas politik ketika saya kelas 2. Kelas tersebut mengajarkan saya mengenai seberapa besar atau kecilnya organisasi, tetap akan membutuhkan pola pikir yang idealis dan sikap tegas untuk mencapai visi-misi mereka. Saya mempelajari betapa sulitnya bernegosiasi dengan para pemimpin lokal ketika visi-misi mereka tidak sama yang berakibat pada tidak adanya dukungan secara sosial ataupun mental. Pentingnya ketekunan dan optimisme untuk berani membicarakan cita-cita kita kepada aktor yang lebih kuat adalah sesuatu yang saya ingin pahami. Saya adalah seorang wanita dan minoritas, tetapi saya punya impian untuk berkontribusi di dunia politik. Saya rasa ini adalah jalan yang panjang dan pastinya membutuhkan strategi untuk membawa saya ke sana. Kelas lain yang saya suka adalah kebijakan luar negeri Uni Eropa: evolusi, masalah, dan tantangan. Itu membuat saya bisa mengartikan kenyataan akan integrasi regional dan bagaimana Uni Eropa bereaksi terhadap poros-poros baru yang muncul, seperti China, India, dan Brasil. Selain itu, sebagai mahasiswi Asia Tenggara, saya memahami bahwa Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) memiliki perbedaan mengenai tujuan dan struktur dengan Uni Eropa. Hal tersebut mengajarkan saya bahwa politik itu kompleks dan penuh dengan kepentingan yang tidak selalu buruk, tetapi politik adalah kombinasi antara kecerdasan kognitif dan interpersonal, strategi, dan kepentingan. Saya mungkin agak politis, tetapi ini adalah cara saya memahami bagaimana dunia bekerja untuk mengejar posisi hegemonik yang terkadang diselimuti gagasan pembangunan, bantuan kemanusiaan, strategi global, dll.

3. How does studying in Taiwan compare with studying in your home country (e.g., teaching quality, environment, school equipment, facilities, etc.)?

(English)

For the university curriculum in Taiwan, I am pretty surprised when I have sport and general courses, differently from Indonesia we do not have them. Then for the outfit in the university environment, Taiwan is more casual than in Indonesia. My friends back home have to wear something formal, such as shirt, long jeans or below the knee skirts, and shoes. Another interesting experience is that I can call my professors by their name only, like “Hi Steven, how are you?” This is because my professors are all graduated from UK and US universities which affect their preferable greeting custom. In Indonesia, it is almost impossible to call the professors by their names. It is considered as impolite in our culture and we tend to respect the elders by calling them “Sir, Madam, Prof, etc”.

(Indonesian)  

Untuk kurikulum universitas di Taiwan, saya cukup terkejut ketika saya memiliki kelas olahraga dan general course seperti sains dan hukum lokal Taiwan, yang pastinya berbeda dari kurikulum di Indonesia. Lalu, Taiwan memiliki budaya untuk berpakaian sangat kasual daripada di Indonesia, termasuk di lingkungan sekolah. Cara berpakaian teman-teman di Wenzao sangat berbeda dengan teman-teman saya di Indonesia yang harus memakai sesuatu yang formal, seperti kemeja, celana panjang atau di bawah rok lutut, dan sepatu ketika pergi ke kampus. Ada juga pengalaman menarik lainnya, ketika saya dapat memanggil profesor saya hanya dengan nama mereka, seperti "Hai Steven, apa kabar?" Hal ini bisa disebabkan karena semua profesor saya terbiasa dengan pengalaman belajarnya selama di Inggris dan Amerika Serikat yang mempengaruhi kebiasaan mereka untuk memberikan salam kepada orang lain. Di Indonesia, saya rasa hampir tidak mungkin untuk memanggil profesor dengan nama mereka. Itu bisa dianggap tidak sopan dan kita cenderung menghargai orang yang lebih tua dengan panggilan “Pak, Bu, Prof.”

4.  What has been the greatest challenge you faced in applying to study in Taiwan? How did you overcome this challenge?

(English)

The greatest challenge I face when I study in Taiwan is the language barrier. I am personally slow at learning Chinese and most of my classes use English, therefore I usually mix Chinese and English in most conversations with friends. Fortunately, my friends are very understanding of my Chinese ability and support to help my speaking skill. Another thing is the food. I get used to eat spicy or a rich flavour food, so when I came to Taiwan I was too afraid to taste the local food which might have been less salty or less spicy. On the first three days after my arrival, I always went to bakery shops. I ate bread, that was it! But after those three days, my Asian tongue did miss Asian food and finally I bought local food especially 蛋餅 and I fall in love with Taiwanese food since then!

(Indonesian)  

Tantangan terbesar yang saya hadapi ketika saya belajar di Taiwan adalah bahasa. Saya pribadi lamban dalam belajar bahasa Mandarin dan sebagian besar kelas saya menggunakan bahasa Inggris, maka dari itu seringkali saya berdialog dengan mencampur bahasa Mandarin dan bahasa Inggris. Untungnya, teman-teman saya sangat pengertian tentang kemampuan bahasa Mandarin saya dan selalu suportif untuk membantu kemampuan bahasa Mandarin saya. Tantangan lainnya adalah makanan lokal Taiwan. Saya terbiasa makan makanan pedas atau kaya akan rasa ketika di rumah, jadi ketika saya datang ke Taiwan saya terlalu takut untuk mencicipi makanan lokal yang mungkin kurang asin atau kurang pedas. Pada tiga hari pertama setelah kedatangan saya di Taiwan, saya selalu pergi ke toko roti. Saya hanya makan roti, tetapi setelah tiga hari makan roti, lidah Asia saya kangen makanan Asia dan akhirnya saya membeli lokal makanan terutama 蛋餅 (Dan Bing, omelet telur terutama dengan keju dan bacon). Sejak saat itu, saya jatuh cinta dengan makanan Taiwan!

5.  What do you plan to do after you have finish your studies in Taiwan? Would you like to stay in Taiwan?  Why? 

(English)

I am actually open for any options, but surely I will work but I am still not sure where. I have a plan to apply jobs in media or international organisations, to learn how they influence the public with their freedom of speech and how to climb the hierarchy. By working in those places might also boost the possibility of successfully applying Master’s scholarships abroad. I would like to stay in Taiwan too, for the reason of understanding the business corporations here and their expansion to Southeast Asian countries. I might have a chance to be the agent to my country too! Actually, recently I got a 3 month job proposal already from Korean media in Ho Chi Minh, Vietnam. They need Indonesian interpreter in the marketing team. I am so excited for starting a new chapter of my life!

(Indonesian)  

Saya sebenarnya terbuka untuk opsi apa pun, tetapi saya akan bekerja dahulu setelah lulus dari Wenzao. Saya memiliki rencana untuk melamar pekerjaan di media atau organisasi internasional, jadi saya memiliki kesempatan untuk mempelajari bagaimana mereka mempengaruhi publik dengan kebebasan berbicara dan belajar mengenai hierarki di dunia pekerjaan. Dengan bekerja di tempat tersebut, saya mampu meningkatkan kemungkinan untuk diterima beasiswa S2 di luar negeri. Tidak menutup kemungkinan untuk saya bekerja di Taiwan, karena bisnis di Taiwan sudah global dan ada di berbagai negara Asia Tenggara. Sebenarnya, baru belakangan ini saya mendapatkan tawaran pekerjaan di perusahaan media Korea di Ho Chi Minh, Vietnam. Ada tawaran menjadi interpreter di tim marketing dengan kontrak selama 3 bulan, hmm menarik! Saya akan pergi ke Vietnam bulan depan dan sangat senang untuk memulai pengalaman baru di sana!

6.  How do you think studying in Taiwan can benefit you in your future career?

(English)

By having inevitable globalised mindset by studying in Taiwan gives me more opportunity to work in transnational corporations. I have some ideas of how Taiwanese do business, especially my friends and I just joined Taiwan in My Eyes 2019 competition for relating Taiwanese companies to the United Nations Sustainable Development Goals (SDGs). We accomplished the third place and we are grateful to know Taiwan contribution to the world programme for creating more prosperous and equal world in 2030. It enriches me for knowing that business should implement environmentally-friendly and Work-Life Balance policies through its Corporate Social Responsibility (CSR) in the workplace for the improvement of society, company, and the environment themselves.

(Indonesian)  

Dengan memiliki pola pikir global yang tak terhindarkan dengan belajar di Taiwan, hal ini memberi saya lebih banyak kesempatan untuk bekerja di perusahaan internasional. Alasannya adalah saya memiliki pengetahuan mengenai bagaimana orang Taiwan berbisnis, terutama teman-teman saya dari Taiwan, Amerika Serikat, Malaysia, dan saya baru saja bergabung kompetisi Taiwan in My Eyes 2019. Kompetisi itu mengajarkan kami bagaimana perusahaan Taiwan bertindak sesuai dengan program PBB atau the United Nations Sustainable Development Goals (SDGs). Kami menang juara tiga dalam kompetisi tersebut dan bersyukur karena kami bisa mengenal kontribusi Taiwan pada program dunia untuk menciptakan dunia yang lebih sejahtera dan adil pada tahun 2030. Hal ini memperkaya saya karena mengetahui bahwa bisnis itu seharusnya menerapkan kebijakan ramah lingkungan dan keseimbangan kehidupan kerja melalui Corporate Social Responsibility (CSR) di tempat kerja untuk peningkatan masyarakat, perusahaan, dan lingkungan itu sendiri.

7.  What do you see as your key achievements during your studies in Taiwan?

(English)

The key achievements during my studies in Taiwan is the mental adjustment to a new society and how I become more open to diversity. It needs open mindset to be able to accept the diversity in Taiwan and how I value the change within myself. In these three years, I am always uncomfortable with my thoughts and behaviour because they constantly change. For instance, I considered the lesbian, gay, bisexual, transgendered, and queer (LGBTQ) as a strange phenomena, but now I can accept them. One of my close friend is even a lesbian. When I was 18 years old, I was not able to accept them the way they are nor include them in my inner circle. But now, I regard them as a human being whom we need to respect. There were underlying reasons I did not accept LGBTQ because perhaps I had less exposure of LGBTQ in Indonesia, it is against the value of christianity that marriage is meant to bring offsprings, and the conservativeness of Indonesian society in terms of accepting the “others”. However, I am now living to a such a more open society with more access to the western influence, I have many foreign friends, and I have supportive professors who give me sufficient understanding of social change. Therefore, when I encounter new problem that can encourage new perspective which might be different from what I have believed earlier, I would try my best to adapt with it. Because why not? People change, our world works rapidly nowadays, informations are easily accessed, and so I would not want to be stagnant. I would like to be the light for people that changes are good when we can value it with good rationale. Giving value to something that we have not encountered is not easy, but at least I enrich my thoughts so that I am able to grow up as a better individual and I am willing share my experience to the others.

(Indonesian)  

Prestasi utama selama studi saya di Taiwan adalah kemampuan adaptasi saya di masyarakat yang baru dan bagaimana saya menjadi pribadi yang lebih terbuka akan perbedaan. Saya rasa pola pikir terbuka itu perlu untuk dapat menerima keragaman di Taiwan dan bagaimana saya menerima perbedaan nilai dalam diri saya sendiri. Dalam tiga tahun ini, saya tidak merasa nyaman dengan pikiran dan perilaku saya yang terus-menerus berubah. Misalnya, dahulu saya menganggap lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ) sebagai fenomena aneh, tetapi sekarang saya bisa menerima mereka apa adanya. Bahkan salah satu teman dekat saya adalah lesbian. Ketika saya berusia 18 tahun tahun, saya tidak mampu menerima mereka apa adanya atau menerima mereka dalam lingkar pertemanan saya. Tetapi sekarang, saya menganggap mereka sebagai sesama yang perlu kita hargai. Ada alasan mendasar mengapa dahulu saya tidak menerima LGBTQ, mungkin karena saya jarang bertemu dengan LGBTQ di Indonesia, LGBTQ bertentangan dengan nilai Katolik yang saya anut bahwa salah satu tujuan pernikahan adalah untuk menghasilkan keturunan, dan keberlangsungan masyarakat Indonesia dalam hal menerima "Orang Lain, Yang Berbeda, The Other". Namun, saya sekarang hidup dengan masyarakat yang lebih terbuka, banyak nilai yang yang dipengaruhi oleh budaya barat, saya punya banyak teman asing, dan saya memiliki profesor yang mengajari saya tentang perubahan sosial. Maka dari itu, ketika saya menemukan masalah yang mendorong pola pikir baru yang mungkin berbeda dari apa yang saya yakini sebelumnya, saya akan mencoba untuk beradaptasi. Because why not? Orang-orang berubah, dunia kita bekerja dengan cepat, informasi mudah didapatkan, maka saya personal tidak ingin ‘stagnan’. Perubahan itu baik ketika kita dapat memahaminya dengan alasan yang rasional. Memberi nilai pada sesuatu yang belum kita pahami bukanlah mudah, tetapi setidaknya saya selalu mencoba untuk memperkaya pikiran sehingga saya bisa tumbuh sebagai seorang individu yang lebih baik dan bersedia membagikan pengalaman saya kepada orang lain.

8. What advice do you have for other foreign students who may want to come to Taiwan to study?

(English)

GO FOR IT!

Who does not want to explore in such a beautiful, safe, and dynamic place like in Taiwan with its delicious cuisine? I can guarantee that you will be able to adapt to a friendly-foreigner place, experience the Chinese culture, and have fun at the same time too!

(Indonesian)  

GO FOR IT!

Siapa yang tidak ingin menjelajahi tempat yang begitu indah, aman, dan dinamis seperti Taiwan, plus masakannya yang lezat? Garansi deh kalau belajar di Taiwan pasti kamu mampu beradaptasi dengan negara yang ramah ini, bisa memiliki pengalaman dengan masyarakat dan budaya Chinese, dan have fun pastinya!