新南向國家學生心得分享

想知道國際學生們對於在臺灣唸書有什麼想法和感受?您一定要聽聽他們的故事。

Dhanang Edy Pratama/ National Central University

From : Indonesia
Major : Chemical and Materials Engineering

2_edi.jpg 

My name is Dhanang Edy Pratama, usually called by Edy. I was born on January 24, 1993, in Pasuruan City, Indonesia.    I am the first son of two siblings. My father is a police officer and my mother is a housewife. I studied my undergraduate at the University of Brawijaya in Malang City, Indonesia, majoring in Chemical Engineering. I graduated in 2015 and soon afterward I joined an Indonesian food company specialized in spice processing as a supervisor. On 2016, I decided to pursue higher education at National Central University of Taiwan as a Master degree student in the Department of Chemical and Materials Engineering. I joined Bio-inspired Materials and High-Throughput Screening Laboratory. I obtained my Master Degree in 2018, and now I am continuing my study as a Ph.D. student in the same laboratory.

Perkenalkan, nama saya Dhanang Edy Pratama,biasa dipanggil Edy. Saya kelahiran tahun 1993, asal Kota Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saya menempuh pendidikan S1 di Universitas Brawijaya, Malang, di Jurusan Teknik Kimia. Saya lulus pada tahun 2015 dan kemudian sempat bekerja di salah satu perusahaan makanan selama hampir satu tahun. Pada tahun 2016, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya sebagai mahasiswa S2 di Jurusan Teknik Kimia dan Material di National Central University (NCU), Taiwan.    Di tempat ini, saya tergabung dalam grup riset Bio-Inspired Material and High-Throughput Screening Laboratory.    Pada tahun 2018, saya mendapatkan gelar S2, dan kemudian memutuskan untuk melanjutkan S3 di grup riset yang sama.

————————————————————————————————————————————————————————————————————————

1. What made you decide to study in Taiwan?

(English)

In 2014, several professors from NCU conducted an interview in Indonesia, seeking for new international students to join NCU. My friends in Indonesia decided to give a shot, but not me because at that time I was thinking of finding a job. Finally, they got accepted and go to Taiwan, while I found a job in a company.

While working, those friends told me many positive aspects of studying in Taiwan, especially in the technological advancement, hi-tech equipment available in the university, the expertise of the professors, not to mention the friendliness of Taiwanese people towards international students. Besides that, my university advisors in Indonesia also encouraged me to go to Taiwan to study more. Those made me began to consider studying in Taiwan.

On 2015, NCU professors visited Indonesia again. I took the interview chance, and thankfully I got the chance to study in Taiwan, which I do not regret at all.

(Indonesian) 

Pada tahun 2014, beberapa professor dari NCU Taiwan mengadakan wawancara di beberapa perguruan tinggi di Indonesia untuk merekrut mahasiswa internasional baru. Pada saat itu, teman- teman sejurusan saya mencoba ikut melamar, tetapi saya tidak jadi ikut karena saat itu pikiran saya cenderung ingin melamar kerja di sebuah perusahaan untuk menerapkan ilmu yang telah saya dapat di bangku kuliah.

Setelah hampir setahun bekerja, teman-teman yang telah lebih dulu ke Taiwan bercerita banyak tentang pengalaman mereka studi di Taiwan, terutama tentang kemajuan teknologinya, peralatan riset yang sangat lengkap di kampusnya, betapa banyaknya professor yang ahli di dalam bidang masing-masing, dan tidak kalah pentingnya adalah betapa aman dan nyamannya hidup dan berinteraksi dengan orang-orang lokal. Selain itu, dosen saya di Indonesia juga turut memberi semangat saya untuk lanjut studi di Taiwan.

Pada tahun 2015, para profesor dari NCU datang lagi ke Indonesia untuk merekrut mahasiswa baru. Saya putuskan untuk ikut wawancara, dan saya pun diterima untuk belajar di Taiwan, dimana saya sekarang amat mensyukuri keputusan yang saya ambil pada waktu itu.

 

2.  Briefly tell us about the program you are studying. What subjects are you studying? What have you enjoyed the most in your studies?
(English)

Currently, I am enrolled in the Department of Chemical and Materials Engineering. The learning subjects deal mainly in:

(a) how to engineer chemical substance or materials to make it more useful for us (example: turning rice starch into plastic)

(b) how to mass-produce something in a big scale, and what is the engineering aspect that needs to be considered (example: you can mix a liquid solution in a small vial by shaking, but doing the same thing in a 100-L sized vessel is another thing). This is what makes chemical science and chemical engineering different.

Here I joined Bio-Inspired Materials and High-Throughput Screening laboratory. The current topic I am working on is in pharmaceutical engineering, which deals with how to produce pharmaceutical substances on a large scale with high yield and high purity.

I really enjoyed making things on a big scale. Most of the time, scientists do things on a small scale in their laboratory, but in this lab, we are learning how to do things on a larger scale. This is very exciting because the engineering problem that you are facing now is very close to the problems you will face in the real-world.

(Indonesian) 

Di dalam jurusan dan grup riset saya, secara umum kami mempelajari tentang:

(a) Bagaimana caranya mengubah suatu bahan/material menjadi barang lain yang memiliki nilai kegunaan lebih (contoh: mengubah tepung pati menjadi bioplastik).

(b) Jurusan saya adalah teknik kimia, sehingga apa yang saya pelajari lebih menekankan pada bagaimana caranya membuat sesuatu dalam jumlah besar, serta aspek-aspek yang perlu diperhatikan di dalam produksi skala besar (contoh: mencampur larutan di dalam gelas sangatlah mudah, hanya perlu diaduk dengan tangan; akan tetapi kalau mencampur larutannya dilakukan dalam skala 100 L tidaklah semudah itu).    Hal inilah yang membedakan antara ilmu sains dan teknik.

Topik yang saya kerjakan di dalam grup riset ini adalah teknologi farmasi, yang mempelajari tentang cara-cara membuat produk-produk farmasi dalam jumlah besar dan kemurnian tinggi.

Dalam kebanyakan kasus, para ilmuwan seringkali berhasil menemukan sesuatu hal yang baru, akan tetapi mereka melakukannya dalam skala yang kecil di laboratorium.  Berbeda dengan grup riset kami yang lebih menekankan produksi dalam skala yang lebih besar.    Menurut saya hal ini sangat menarik karena apa yang saya pelajari di sini adalah masalah-masalah yang seringkali kita jumpai di dunia nyata.

3. How does studying in Taiwan compare with studying in your home country (e.g., teaching quality, environment, school equipment, facilities, etc.)?

(English)

In the teaching aspect, studying in Taiwan and Indonesia are not really different, because both countries are using exactly the same textbook and perhaps similar curriculum. And because in Indonesia we can use our native language, perhaps it will be easier to understand (which I know is obvious!)

In my opinion, the biggest difference between Taiwan and my home country are:

(a) Equipment, instrumentation, and research facility

As a student in Taiwan, you can use many kinds of sophisticated equipment by yourself, literally as many times as you need to. You can use these facilities for granted. This is the biggest differences between Taiwan and most of the other countries, I think. And arguably, this is what makes Taiwan’s research becomes one of the best in Asia, even in the world. This also makes me feel very grateful for studying here.

(b) Connections abroad

I feel Taiwan is very internationalized, because during my time here I have already met many experts from various countries (France, Canada, US, Japan, China, etc). Studying in Taiwan is a very good opportunity to expand your network worldwide.

(Indonesian)  

Dalam hal perkuliahan Teknik Kimia, sejujurnya belajar di Taiwan dan Indonesia tidak jauh berbeda, karena keduanya memakai buku pelajaran yang sama, dan mungkin kurikulum dasarnya juga hampir mirip-mirip. Akan tetapi, yang menjadi perbedaan adalah:

(a) Ketersediaan peralatan, instrumentasi, dan fasilitas riset

Selama belajar di Taiwan, saya sudah banyak sekali memakai bermacam-macam alat-alat mahal dengan kedua tangan sendiri, bisa dibilang sebanyak dan sesering apapun. Saya merasa di dalam aspek inilah yang membuat pendidikan dan riset Taiwan jauh lebih unggul dibanding negara-negara lain, mungkin salah satu yang terbaik di Asia, atau bahkan dunia. Saya benar-benar merasa bersyukur bisa mendapat pengalaman ini.

(b) Koneksi internasional

Taiwan adalah negara yang membuka pintu untuk mancanegara, karena selama saya studi di sini, saya telah bertemu dengan banyak pakar-pakar dari berbagai negara (Amerika, Perancis, Kanada, Jepang, Korea, China, Thailand, dll). Belajar di Taiwan merupakan kesempatan emas untuk memperluas jaringan dengan luar negeri.

4.  What has been the greatest challenge you faced in applying to study in Taiwan? How did you overcome this challenge?

(English)

During my application year of 2016, vaccination was the biggest problem. In order to apply a residence permit of Taiwan, you need to be vaccinated thoroughly. On 2016 MMR vaccine was quite rare in Indonesia. We need to go asking around to many places for availability. One of my friends even took a flight to another island just to get the vaccine. That was the case in 2016.

Other than that, there are no other difficulties. As a student, Taiwan visa is very straightforward to obtain. The staffs from the Taiwan Education Center of Indonesia are very kind and helpful in processing students’ application. The staffs of the International Affairs of my campus were also very helpful and responsive in answering students’ queries.

(Indonesian)  

Di tahun 2016 sewaktu saya mendaftar, vaksinasi menjadi masalah pada saat itu. Salah satu persyaratan untuk mendaftar visa ijin tinggal (residence permit) adalah vaksinasi MMR. Saat itu vaksin MMR cukup langka di Indonesia. Kami perlu bertanya kesana kemari untuk mengetahui ketersediaan vaksin itu. Salah satu teman saya bahkan harus terbang keluar pulau hanya untuk divaksin.

Di samping hal itu, tidak ada masalah yang berarti. Sejauh pengalaman saya, visa Taiwan untuk pelajar  tidak  terlalu  sulit  pengurusannya.  Taiwan  Education  Center banyak  sekali  membantu pengurusan visa dan hal-hal lainnya. Kantor International Affairs di kampus saya juga telah banyak membantu urusan-urusan kami selama di Taiwan.

5.  What do you plan to do after you have finish your studies in Taiwan? Would you like to stay in Taiwan?  Why? 

(English)

At first, I thought of going back to my home country to teach in a university, so I can teach advanced knowledge to the young people there. But after starting my Ph.D. study, I got exposed to many people from academic and industry and realized that there are actually many opportunities out there for people with a Ph.D. degree.

Now my strongest desire is to open my own business back in my home country, based on my future invention that I will found during my study (I hope!). I am glad that what I am studying here is very applicable and totally relevant to what is present in my home country.

People will never know what lies ahead, what kind of opportunity and challenge in the future. Therefore, I am also very open to all kinds of opportunities in the future, whether academic career or working in a company, whether in Taiwan, Indonesia, or any other countries.

Now I have not even finished the first year of my Ph.D. degree, I still have plenty of time to seek new opportunities, and will not miss any chance.

(Indonesian)  

Pada mulanya saya berpikir untuk kembali pulang dan mengajar di sebuah universitas. Akan tetapi setelah menjalani S3 dan bertemu pakar-pakar dari akademisi maupun industri, ternyata banyak sekali peluang bagi seseorang dengan gelar S3.

Salah satu peluang tersebut adalah membuka usaha sendiri berdasarkan hal-hal yang telah dan akan saya pelajari ke depannya di sini. Saya senang apa yang pembimbing berikan untuk saya adalah ilmu  terapan  yang  bisa  langsung  diaplikasikan  dan  memiliki  potensi  untuk  dikembangkan. Meskipun begitu, saya tetap membuka diri untuk berbagai kesempatan apapun yang ada di masa depan, entah itu membuka usaha, berkarir sebagai akademisi, ataupun bekerja di perusahaan, dimanapun baik di Indonesia, Taiwan, ataupun negara-negara lain.    Karena tidak ada seorangpun yang mengetahui apa peluang dan tantangan yang ada di masa depan. Sekarang saya belum sampai setahun belajar S3, sehingga masih banyak waktu untuk menjajaki berbagai peluang yang ada.

6.  How do you think studying in Taiwan can benefit you in your future career?

(English)

Studying in Taiwan offers a chance to learn much-advanced stuff and get acquaintance with experts around the world.    Therefore, a Ph.D. degree from Taiwan is very high-quality. People who study abroad will have better knowledge and connections around the world, which I believe gives a huge advantage over people. If in the future I decide to start a new business, things that I learned from Taiwan will allow me to invent a niche product, think forward, and have a global mindset.

Additionally, I believe the Ph.D. degree will enable me to seek another opportunity such as applying for jobs in many academic institutions and companies around the world.

(Indonesian)  

Belajar di Taiwan merupakan kesempatan emas untuk mempelajari teknologi-teknologi canggih dan bertemu dengan para pakar dari berbagai penjuru dunia. Oleh karena itulah, menurut saya kualitas pendidikan pascasarjana Taiwan sangatlah bagus.    Pengalaman ke luar negeri akan menjadikan seseorang memiliki wawasan dan jaringan yang amat luas. Jika seandainya saya benar-benar memiliki usaha, saya yakin hal-hal yang saya dapatkan di sini akan menjadikan saya selalu berpikir ke depan dan memiliki mindset global. Selain itu, gelar S3 juga merupakan bekal untuk menggapai peluang bekerja akademik ataupun industri di berbagai penjuru dunia.

7.  What do you see as your key achievements during your studies in Taiwan?

(English)

One time, my advisor gave me a thesis topic which was unthinkable and deemed impossible to do, that was what I thought. There was almost no prior research dwells into that area, so it was very difficult, no reference I could rely on.

After many trial and error trying to develop my own method, finally, I found a way to do it. Even though I found the solution, I still needed to polish the method to get a better result, which also took some time and effort.

Those efforts were paid off by winning the prize for the best poster in a poster competition held by the Department of Chemical and Materials Engineering of NCU for its students.

(Indonesian)  

Suatu waktu, pembimbing saya memberikan suatu pekerjaan yang saya rasa hampir tidak mungkin dilakukan.    Saya mencari-cari referensi tentang penelitian saya, akan tetapi hampir tidak ada yang berkaitan langsung.    Terpaksa harus melakukan coba-coba sendiri untuk menemukan metodenya, syukurlah pada akhirnya saya bisa menemukannya.    Akan tetapi tidak hanya di situ, setelah menemukan metodenya, proses harus terus dikembangkan untuk mendapatkan hasil yang terbaik, yang juga sangat memakan waktu.     Usaha tersebut pada akhirnya terbayar dengan menjuarai kompetisi poster yang diadakan oleh Jurusan Teknik Kimia dan Material tempat saya studi.

8. What advice do you have for other foreign students who may want to come to Taiwan to study?

(English)

Firstly, learning the Chinese language before go to Taiwan is very important. Some schools are already using English for daily conversation, so it is not a problem for academic life. On the other hand, outside the school environment such as market, food stall, barber shop; it is rare to find people speak English. Learning Chinese before going to Taiwan is very important, at least you will know how to ask for the price, ask to take a picture, ask for direction, bargain with a vendor, and maintain a short conversation with people. You will find it rewarding.

Secondly, do not be afraid of culture shock. In order to advance, people need to be adept with different cultures. Based on my experience, Taiwanese people are very accepting and kind toward foreigners. I can go to market buying stuff, go-to repair shop buying spare parts for my bicycle, traveling around Taiwan, all by myself even with very limited Chinese ability. Once you get used to it, you will enjoy it very much and cherish it during your lifetime.

And lastly, I would say if you got the chance to study in Taiwan, do not miss it at all. Studying in Taiwan enables you to learn many things that otherwise will be difficult to do. Learning hi-tech knowledge, operating many kinds of advanced scientific instrumentation by yourself, knowing people from all over the world, enjoying a different culture, those are a privilege many people dream of.

(Indonesian)  

Pertama, belajar bahasa Cina sebelum berangkat ke Taiwan sangatlah penting. Banyak universitas di Taiwan sudah menggunakan bahasa Inggris di dalam proses belajar-mengajar, sehingga untuk urusan akademik bahasa tidaklah menjadi masalah. Akan tetapi, di lingkungan luar sekolah seperti pasar, warung, tukang cukur, dll tidak banyak orang yang berbahasa Inggris. Oleh karena itu belajar bahasa Cina sangatlah penting, paling tidak sedikit-sedikit bisa menawar harga, minta tolong difotokan sewaktu jalan-jalan, bertanya arah, dan bercakap-cakap dengan orang meskipun sedikit- sedikit. Pasti akan sangat bermanfaat.

Kedua, jangan takut kejutan budaya (culture shock). Agar seseorang bisa maju, dia harus bisa beradaptasi  dan  menerima  budaya-budaya  yang  berlainan. Berdasarkan  pengalaman, orang Taiwan sangatlah menerima dan baik terhadap orang asing. Sebagai contoh, saya bisa sendirian pergi ke pasar berbelanja, pergi ke toko sepeda rombengan beli onderdil sepeda, jalan-jalan keliling Taiwan, meskipun bahasa Cina saya amatlah terbatas. Setelah terbiasa, semuanya akan merasa nyaman dan bahkan mungkin akan merindukannya ketika saatnya lulus.

Dan terakhir, jika seandainya mendapat kesempatan beajar di Taiwan, jangan disia-siakan. Belajar di Taiwan benar-benar membuka wawasan yang amat berharga. Belajar ilmu-ilmu tingkat tinggi, mengoperasikan sendiri instrumen-instrumen riset yang canggih dan mahal, berkenalan dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia, melihat budaya yang berbeda dengan budaya negara asal, hal-hal ini merupakan sesuatu yang menjadi mimpi banyak orang.