image

新南向國家學生心得分享

想知道國際學生們對於在臺灣唸書有什麼想法和感受?您一定要聽聽他們的故事。

Peter Andreas Timotius/ National Cheng Kung University

From : Indonesia
Major : Master of the International Institute of Medical Device Innovation, Department of Biomedical Engineering

Peter - Read Journals and Study_edi.jpg 

I graduated from my undergraduate study in the Department of Materials Engineering, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) in Indonesia. I took biomaterials as research theme for my undergraduate final project because I aspire to help people in the most important thing they have, which is their health. I tried to develop materials that are capable to become a thigh implant. Besides academic matters, I was active in some organizations. I was a sport division staff in student union of my department (HMMT-FTI ITS), where I was also entrusted to be the chief executive of biggest sport competition held by HMMT FTI-ITS.
Secondly, I was also active in university choir (PSM ITS), where I was appointed to be the coach for new students and also to be the art director for two annual concerts of new students consecutively. I was lucky enough to represent my country and my undergraduate university as one of choir singers for international choir competitions held in Gorizia, Italy (2015) and in Llangollen, Wales (2017). Even more, I can still managed to graduate with cum laude predicate.
As for now, I am studying in Department of Biomedical Engineering, National Cheng Kung University (NCKU) in Taiwan. It might be quite different with my undergraduate study, but thankfully I found a professor whose research is related to mechanical properties of implant materials. This time is my second semester in NCKU, and now I am being given mandate to become a teacher assistant for a course lectured by my Professor. The course is named Engineering Physiology. I still can find my time to do organizational matters. From September to December 2018, I was appointed by Indonesian student union in Tainan (PPI Tainan) to become a coach for PPI Tainan’s biggest event named “Indonesia Cultural Day 2018” held on December 2018. There, I trained choir team and angklung team. Angklung is one of traditional music instrument from Indonesia. I made some arrangements for five songs that were needed to be performed. Back to the recent time, I also feel honored that I am being given a mandate to be the Vice-Chairman of Indonesia Student Association in Tainan (PPI Tainan). There, I am assigned to deal with activities regarding sport, education, student welfare, and internal affairs involving Indonesian students who are studying in Tainan.

Saya lulus dari pendidikan sarjana saya di Departemen Teknik Material, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Indonesia. Saya mengambil biomatarial sebagai tema penelitian untuk tugas akhir saya karena saya bercita-cita untuk menolong orang dalam hal terpenting yang mereka punya, yaitu kesehatan mereka. Saya mencoba mengembangkan material yang dapat menjadi implan paha. Selain urusan akademik, saya juga aktif dalam beberapa organisasi. Saya merupakan staff divisi olahraga di himpunan mahasiswa jurusan saya (HMMT-FTI ITS), dimana saya juga dipercaya menjadi ketua pelaksana kompetisi olahraga terbesar yang diadakan HMMT FTI-ITS.
Kedua, saya juga aktif di paduan suara universitas (PSM ITS), di mana saya ditunjuk untuk menjadi pelatih bagi mahasiswa baru dan juga menjadi direktur seni untuk dua konser tahunan mahasiswa baru secara berurutan. Saya cukup beruntung untuk mewakili negara dan universitas saya sebagai salah satu penyanyi paduan suara untuk kompetisi paduan suara internasional yang diadakan di Gorizia, Italia (2015) dan di Llangollen, Wales (2017). Terlebih lagi, saya masih bisa lulus dengan predikat cum laude.
Adapun sekarang, saya belajar di Departemen Teknik Biomedik, National Cheng Kung University (NCKU) di Taiwan. Mungkin sangat berbeda dengan studi sarjana saya, tetapi untungnya saya menemukan seorang profesor yang penelitiannya terkait dengan sifat mekanik bahan implan. Saat ini adalah semester kedua saya di NCKU, dan sekarang saya diberi mandat untuk menjadi asisten pengajar untuk kuliah yang diampu oleh Profesor saya. Kelas ini bernama Rekayasa Fisiologi.
Saya masih dapat membagi waktu untuk melakukan hal-hal terkait organisasi. Dari September hingga Desember 2018, saya ditunjuk oleh Perhimpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia di Tainan (PPI Tainan) menjadi pelatih untuk acara terbesar PPI Tainan bernama "Indonesian Cultural Day 2018" yang diadakan pada Desember 2018. Di sana, saya melatih tim paduan suara dan tim angklung. Angklung adalah salah satu alat musik tradisional dari Indonesia. Saya membuat beberapa pengaturan untuk lima lagu yang perlu ditampilkan. Kembali ke waktu terkini, saya juga merasa terhormat bahwa saya diberi mandat untuk menjadi Wakil Ketua PPI Tainan. Disana, saya ditugaskan
untuk menangani kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan olahraga, pendidikan, kesejahteraan siswa, dan urusan internal yang melibatkan siswa Indonesia yang belajar di Tainan.

————————————————————————————————————————————————————————————————————————

1. What made you decide to study in Taiwan?

(English)

I had applied for study in other countries before, like in Japan. However, I was always not able to accomplish the English requirement because the test was very expensive and I did not have that amount of money. In opposite, Taiwan government made many things look easier for me to live up my dream continuing my Master study abroad. All requirements were not that complicated compared to other countries. No need of direct interviews yet no minimum requirement of English language proficiency test. Even the rating of my university destination is also better than the best university in Indonesia and the university in Japan I applied before.

(Indonesian) 

Saya telah mendaftar untuk belajar di negara lain sebelumnya, seperti di Jepang. Namun, saya selalu tidak dapat memenuhi persyaratan bahasa Inggris karena tes itu sangat mahal dan saya tidak memiliki uang sebanyak itu. Sebaliknya, pemerintah Taiwan membuatnya menjadi lebih mudah bagi saya untuk mewujudkan impian saya melanjutkan studi Master di luar negeri. Semua persyaratan tidak terlalu rumit dibandingkan dengan negara lain. Tidak diperlukan wawancara langsung dan juga tidak ada persyaratan minimum tes kecakapan berbahasa Inggris. Bahkan peringkat universitas tujuan saya juga lebih baik daripada universitas terbaik di Indonesia dan universitas di Jepang yang saya lamar sebelumnya.

 

2.  Briefly tell us about the program you are studying. What subjects are you studying? What have you enjoyed the most in your studies?
(English)

As Biomedical Engineering is a kind of interdisciplinary knowledge, I learn various field of research including biomaterials, biomechanics, biostatistics, even business knowledge in medical device industries. However, I chose to concentrate my study in learning about orthopedic biomechanics for laboratory research, where I am thankful to work with a Professor who advised me really kindly.
I am also glad to have other international students in the same department who help me build my organizational skills. That led me to win a medical device start-up competition where I, along with classmates from Taiwan and the Philippines, created an innovative oxygen mask to prevent pressure sores. We really worked hard together to find the unmet needs in hospital’s emergency room, created intellectual property analysis, and designed the prototype of our product. That was the best part of my study here so far.

(Indonesian) 

Karena teknik biomedik adalah sejenis pengetahuan interdisipliner, saya belajar berbagai bidang penelitian termasuk biomaterial, biomekanik, biostatistik, bahkan pengetahuan bisnis di industri perangkat medis. Namun, saya memilih untuk memusatkan studi saya dalam belajar tentang biomekanik tulang untuk penelitian laboratorium, di mana saya bersyukur untuk bekerja dengan seorang Profesor yang menasihati saya dengan sangat ramah.
Saya juga senang memiliki teman mahasiswa internasional lain di departemen yang sama yang
membantu saya membangun keterampilan organisasi saya. Itu membuat saya memenangkan kompetisi alat kesehatan di mana saya, bersama dengan teman sekelas dari Taiwan dan Filipina, dimana kami menciptakan masker oksigen inovatif untuk mencegah luka dari adanya tekanan. Kami benar-benar bekerja keras bersama untuk menemukan kebutuhan yang tidak terpenuhi di ruang gawat darurat rumah sakit, membuat analisis kekayaan intelektual, dan merancang prototype produk kami. Itu adalah bagian terbaik dari studi saya di sini sejauh ini.

3. How does studying in Taiwan compare with studying in your home country (e.g., teaching quality, environment, school equipment, facilities, etc.)?

(English)

It turns out that people in Taiwan are really tidy. The campus environment is very safe, wide pedestrian street, very much less pollution, and the best part for me is the cleanliness. The transportations might not be as good-looking as in Indonesia, but the traffic system are very well established. Most drivers on the road obey the law and that made me safe to go everywhere especially nearby campus. For me, it is better to have neat traffic than having cool vehicles.
The scholars are also respectful. From Professors to students, they always respond me kindly each time I discuss with them. The presentation given by either teachers or students here are more simple but understandable. Besides that, almost every studying activity is started on time, such as classes, seminars, even a group discussions. Such this on-time habit is not well applied in Indonesia. All of those norms made me accustomed to a clean and orderly life.

(Indonesian)  

Ternyata orang-orang di Taiwan benar-benar rapi. Lingkungan kampus sangat aman, jalan bagi pejalan kaki lebar, polusi sangat sedikit, dan bagian terbaik bagi dari saya adalah kebersihannya. Transportasi mungkin tidak semenarik di Indonesia, tetapi sistem lalu lintasnya sangat tertib. Sebagian besar pengemudi di jalan raya mematuhi hukum dan itu membuat saya aman untuk pergi ke mana-mana terutama kampus terdekat. Bagi saya, lebih baik memiliki lalu lintas yang rapi daripada memiliki kendaraan yang keren.
Para kalangan akademik juga sopan. Dari Profesor hingga mahasiswa, mereka selalu merespons saya dengan ramah setiap kali saya berdiskusi dengan mereka. Presentasi yang diberikan oleh guru atau siswa di sini lebih sederhana tetapi dapat dimengerti. Selain itu, hampir setiap kegiatan belajar dimulai tepat waktu, seperti kelas, seminar, bahkan diskusi kelompok. Kebiasaan tepat waktu seperti ini yang tidak diterapkan dengan baik di Indonesia. Semua norma itu membuat saya terbiasa hidup bersih dan tertib.

4.  What has been the greatest challenge you faced in applying to study in Taiwan? How did you overcome this challenge?

(English)

felt so difficult in collecting the requirements for applying student visa and certificate with an official stamp from TETO (Taipei Economic Trade Office). Not like most of Indonesian people, I applied for the visa by myself without any help of particular agencies. In other words, I should go to the Ministry of Foreign Affairs and Ministry of Law and Human Rights back and forth all by myself to get the official stamps before I got the official stamp from TETO. I had to do that as I do not have much money to use agencies’ services. Besides, I had one month shorter of preparing all the requirements because I also got the opportunity to join the internship in the university, which would be held one month ahead of the beginning of the new semester.
Therefore, firstly I reviewed many blogs on the website that told their experience in applying for a visa. I
also checked TETO Indonesia official website to find the procedures I should follow. Fortunately, TETO is quite near to my home. After that, I arranged the itinerary in such a way so I could receive the student visa before the due date. This is an important part for me. I like to have all inside of the plan and well-structured. For example, I should have arrived the Ministry of Law and Human Rights in the morning to take the stamped certificate, followed by registering my stamped certificate in the Ministry of Foreign Affairs application to receive another stamp. Thankfully, I can receive the student visa and the certificate with official stamp from TETO before my departure to Taiwan.

(Indonesian)  

Saya merasa sangat sulit mengumpulkan persyaratan untuk mengajukan visa pelajar dan sertifikat dengan cap resmi dari TETO (Kantor Dagang Ekonomi Taipei). Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia, saya mengajukan visa sendiri tanpa bantuan lembaga tertentu. Dengan kata lain, saya harus pergi sendiri ke Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk mendapatkan cap resmi sebelum saya mendapatkan cap resmi dari TETO. Saya harus melakukan itu karena saya tidak punya banyak uang untuk menggunakan layanan agensi. Selain itu, saya memiliki satu bulan lebih pendek untuk mempersiapkan semua persyaratan karena saya juga mendapat kesempatan untuk bergabung dengan magang di universitas, yang diadakan satu bulan sebelum awal semester baru.
Karena itu, pertama saya meninjau banyak blog di situs website yang menceritakan pengalaman mereka dalam mengajukan visa. Saya juga memeriksa situs website resmi TETO Indonesia untuk menemukan prosedur yang harus saya ikuti. Untungnya, letak TETO cukup dekat dari rumah saya. Setelah itu, saya mengatur rangkaian perjalanan sedemikian rupa sehingga saya bisa menerima visa pelajar sebelum tanggal jatuh tempo. Ini bagian penting bagi saya. Saya suka memiliki semua rencana dan terstruktur dengan baik. Misalnya, saya harus tiba di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di pagi hari untuk mengambil sertifikat yang dicap, diikuti dengan mendaftarkan sertifikat yang dicap pada aplikasi Kementerian Luar Negeri untuk menerima cap lain. Untungnya, saya dapat menerima visa pelajar dan sertifikat dengan cap resmi dari TETO sebelum keberangkatan saya ke Taiwan.

5.  What do you plan to do after you have finish your studies in Taiwan? Would you like to stay in Taiwan?  Why? 

(English)

I have two plans once I finish my master study. For the first plan, I would like to continue my PhD study outside Taiwan. During the time I wait for the admission process, I plan to stay in Taiwan and becoming my Professor’s laboratory assistant for a while. Otherwise, I will apply again for PhD position in my Professor’s laboratory. The second plan, which is more feasible one, is going to directly continue my PhD degree in the same university. My Professor has told me that he welcomes me if I want to continue my study in his laboratory.
I have not thought such a plan that I would stay in Taiwan after finishing my study. After all, my ultimate goal is to bring back all my knowledge to Indonesia. I plan to be a lecturer in Indonesia. The field of biomedical engineering is still not as famous as another engineering study such as mechanical and electrical engineering. Thus, the opportunity to be a biomedical engineering lecturer in Indonesia is very wide.
Furthermore, I also have a friend from Nursing Department in NCKU. He is the Chairman of Indonesia Student Association and currently taking the PhD degree. He is also a lecturer from Airlangga University in Indonesia that has Department of Biomedical Engineering. He told me that he would help me to get the position as lecturer there if I want to.

(Indonesian)  

Saya memiliki dua rencana setelah saya menyelesaikan studi Master saya. Untuk rencana
pertama, saya ingin melanjutkan studi PhD saya di luar Taiwan. Selama saya menunggu proses penerimaan, saya berencana untuk tinggal di Taiwan dan menjadi asisten laboratorium Profesor saya untuk sementara waktu. Bila tidak, saya akan melamar lagi untuk posisi PhD di laboratorium Profesor saya. Rencana kedua, yang lebih memungkinkan, saya akan melanjutkan gelar PhD saya di universitas yang sama. Profesor saya mengatakan kepada saya bahwa dia menyambut baik bila saya ingin melanjutkan studi di laboratoriumnya.
Saya belum memikirkan rencana untuk tinggal di Taiwan setelah menyelesaikan studi saya. Lagipula, tujuan akhir saya adalah mengembalikan semua pengetahuan saya ke Indonesia. Saya berencana untuk menjadi dosen di Indonesia. Bidang teknik biomedik masih belum setenar studi teknik lainnya seperti teknik mesin dan listrik. Dengan demikian, peluang untuk menjadi dosen teknik biomedik di Indonesia sangat luas.
Selain itu, saya juga punya teman dari Departemen Keperawatan di NCKU. Dia adalah ketua PPI Tainan dan saat ini sedang mengambil gelar PhD. Ia juga seorang dosen dari Universitas Airlangga di Indonesia yang memiliki Jurusan Teknobiomedik. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia akan membantu saya untuk mendapatkan posisi sebagai dosen di sana jika saya mau.

6.  How do you think studying in Taiwan can benefit you in your future career?

(English)

I learn great work ethics here such as on-time habit. As for the campus environment, all the students are hard workers and I become triggered to study harder. The teaching materials here are comprehensive but look simple. As a foreign student, I am forced to speak English. I start to get used to speaking fluently in English here. Even more, I found that it is necessary for me to understand and speak Chinese, one of the hardest languages to be learned according to websites. For example, most restaurants do not provide an English menu. That turns out to be a big advantage for me because with that I will learn Chinese wherever I am in Taiwan.
Language is a weapon to build a relationship with other people. Especially, English and Chinese are the two most useful language for business. By studying in Taiwan, not only I will be able to be masterful in Orthopedic Biomechanics, but I will also be able to broaden my connections by speaking various languages.
Besides language matters, it is also very beneficial to study abroad because I experience culture differences with other country. Here, I have classmates from Vietnam, the Philippines, Bangladesh, and Taiwan as well. I might experience culture shock, but I turn it into advantage that from them I can learn new things and take the good habit one. For examples, by befriending with Vietnamese classmates, I can know that many Vietnamese students like sports. I am also often invited to play volleyball with them. Sports might not impact my future career directly, but that could build new relations with other colleagues.

(Indonesian)  

Saya belajar etika kerja yang bagus di sini seperti kebiasaan tepat waktu. Sedangkan untuk lingkungan kampus, semua siswa adalah pekerja keras dan saya menjadi terpicu untuk belajar lebih keras. Bahan belajar di sini komprehensif tetapi terlihat sederhana. Sebagai siswa asing, saya terpaksa berbicara bahasa Inggris. Saya mulai terbiasa berbicara lancar dalam bahasa Inggris di sini. Terlebih lagi, saya menemukan bahwa penting bagi saya untuk memahami dan berbicara bahasa Mandarin, salah satu bahasa yang paling sulit dipelajari berdasarkan situs website. Misalnya, sebagian besar restoran tidak menyediakan menu bahasa Inggris. Itu ternyata menjadi keuntungan besar bagi saya karena dengan itu saya akan belajar bahasa Mandarin di mana pun saya berada di Taiwan.
Bahasa adalah senjata untuk membangun hubungan dengan orang lain. Terutama, bahasa Inggris dan bahasa Cina adalah dua bahasa yang paling berguna untuk bisnis. Dengan belajar di
Taiwan, tidak hanya saya akan dapat menguasai Biomekanik Pertulangan, saya juga akan dapat memperluas koneksi saya melalui berbagai bahasa.
Selain masalah bahasa, juga sangat bermanfaat untuk belajar di luar negeri karena saya mengalami perbedaan budaya dengan negara lain. Di sini, saya punya teman sekelas yang berasal dari Vietnam, Filipina, Bangladesh, dan Taiwan juga. Saya mungkin mengalami culture shock, tetapi saya mengubahnya menjadi keuntungan bahwa dari mereka saya dapat belajar hal-hal baru dan mengambil kebiasaan yang baik. Sebagai contoh, dengan berteman dengan teman sekelas Vietnam, saya dapat mengetahui bahwa banyak siswa Vietnam menyukai olahraga. Saya juga sering diajak bermain voli bersama mereka. Olahraga mungkin tidak memengaruhi karier di masa depan saya secara langsung, tetapi itu dapat membangun hubungan baru dengan kolega lain.

7.  What do you see as your key achievements during your studies in Taiwan?

(English)

I have several targets to be achieved during my study here. The first one is about my work ethics improvement. I hope I can establish a good relationship with my Professor and other scholars in my campus. For the real example, now I have been being entrusted by my Professor to become teaching assistant in a course named “Engineering Physiology”. This is a big opportunity to train my professionalism. I also have so many Vietnamese and the Philippines classmates. We often work in-group for doing projects and homework. I want to leave such an impression to them that Indonesian students are good and cooperative ones.
I also set myself as a successful student if I am able to communicate with Taiwanese people using Chinese. I will prove it by obtaining TOCFL (Test of Chinese as a Foreign Language) certificate level 3 or higher before I leave Taiwan. In my country, most people who speak Chinese are those of Chinese descent. As I am not one of Chinese descent, I am very eager to be a few people of pure Indonesian descent that are able to speak Chinese.
Last key achievement is about my time management. Right now, I am trying to distribute my time appropriately. My master study does not have more classes to be completed compared to my undergraduate study. This led me to have more time that is flexible and at worst; it can lead me to be a lazy student. To overcome that tendency, I set and follow quite strictly a weekly schedule by myself to work at laboratory, have classes, do organizational things, religious matters, as well as sports especially badminton. So far, I can study more efficiently and feel healthier by doing that schedule. With this structured daily life, I hope I get used to do everything efficiently and can apply this manner once I go back to work in Indonesia.

(Indonesian)  

Saya memiliki beberapa target yang ingin dicapai selama studi saya di sini. Yang pertama adalah tentang peningkatan etika kerja saya. Saya harap saya bisa menjalin hubungan yang baik dengan Profesor saya dan cendekiawan lain di kampus saya. Sebagai contoh nyata, sekarang saya telah dipercayakan oleh Profesor saya untuk menjadi asisten pengajar dalam kursus bernama "Rekayasa Fisiologi". Ini adalah kesempatan besar untuk melatih profesionalisme saya. Saya juga punya banyak teman sekelas Vietnam dan Filipina. Kami sering bekerja dalam kelompok untuk mengerjakan proyek dan pekerjaan rumah. Saya ingin meninggalkan kesan kepada mereka bahwa siswa Indonesia adalah siswa yang baik dan kooperatif.
Saya juga menetapkan diri saya sebagai siswa yang sukses jika saya dapat berkomunikasi dengan orang Taiwan menggunakan bahasa Cina. Saya akan membuktikannya dengan memperoleh sertifikat TOCFL (Tes Bahasa Cina sebagai Bahasa Asing) level 3 atau lebih tinggi sebelum saya meninggalkan Taiwan. Di negara saya, sebagian besar orang yang berbicara bahasa Cina adalah orang-orang keturunan Cina. Karena saya bukan salah satu dari keturunan Tionghoa, saya sangat ingin menjadi
beberapa orang keturunan Indonesia murni yang mampu berbahasa Mandarin.
Pencapaian penting yang terakhir adalah tentang manajemen waktu saya. Saat ini, saya mencoba mendistribusikan waktu saya dengan tepat. Studi master saya tidak memiliki lebih banyak kelas yang harus diselesaikan dibandingkan dengan studi sarjana saya. Ini membuat saya memiliki lebih banyak waktu yang fleksibel dan paling buruk; itu bisa membuat saya menjadi siswa yang malas. Untuk mengatasi kecenderungan itu, saya menetapkan dan mengikuti dengan ketat jadwal mingguan saya sendiri untuk bekerja di laboratorium, mengikuti kelas, melakukan hal-hal organisasi, masalah agama, serta olahraga terutama bulu tangkis. Sejauh ini, saya bisa belajar lebih efisien dan merasa lebih sehat dengan melakukan jadwal itu. Dengan kehidupan sehari-hari yang terstruktur ini, saya harap saya terbiasa melakukan segalanya dengan efisien dan dapat menerapkan cara ini begitu saya kembali bekerja di Indonesia.

8. What advice do you have for other foreign students who may want to come to Taiwan to study?

(English)

Taiwan is a very comfortable place to study. The people are friendly like Indonesian people, but the environment is well organized like in Japan. Those who want to study here will not regret that. We can learn the most-hardest-to-be-learnt language directly from every corner in Taiwan. However, I suggest that at least prepare in advance simple phrases in Chinese, like how to greet in Chinese for example. Those greetings at least can give good impression to those whom you speak.
Secondly, establish the subjects you are interested in and find the university open the program you want. Some websites could provide information about how to study in Taiwan and the available scholarships. In addition, carefully search for the language of the program offered if you are not ready to study all in Chinese.
I also would like to give advice to those who are looking for a Master or Ph.D. study. I suggest you search about Professor who expertise in the field that you are interested. Therefore, soon after you are admitted to a university in Taiwan, you could contact them to make an agreement. Professors are very important people and sometimes they cannot accept new students because they already had a maximum quota of students they can receive.
Lastly, I would like to share some words for students from “Southbound” countries; I would like to tell you that this time is a very good chance for you to realize your dream studying abroad. Taiwanese government are giving such an easier way to submit the entire admission requirement. I do not know when this policy will end. So, grab this chance while it lasts.

(Indonesian)  

Taiwan adalah tempat yang sangat nyaman untuk belajar. Orang-orangnya ramah seperti orang Indonesia, tetapi lingkungannya teratur seperti di Jepang. Mereka yang ingin belajar di sini tidak akan menyesal. Kita bisa belajar bahasa yang paling sulit untuk dipelajari secara langsung dari setiap sudut di Taiwan. Namun, saya menyarankan agar setidaknya belajar terlebih dahulu kalimat sederhana dalam bahasa Cina, seperti bagaimana menyapa dalam bahasa Cina misalnya. Salam itu setidaknya dapat memberikan kesan yang baik kepada mereka yang Anda ajak bicara.
Kedua, tentukan mata pelajaran yang Anda minati dan temukan universitas yang membuka program yang Anda inginkan. Beberapa situs website dapat memberikan informasi tentang cara belajar di Taiwan dan beasiswa yang tersedia. Selain itu, carilah dengan cermat bahasa program yang ditawarkan jika Anda tidak siap untuk belajar semua dalam bahasa Cina.
Saya juga ingin memberikan saran bagi mereka yang mencari studi Magister atau PhD. Saya sarankan Anda untuk mencari tentang Profesor yang ahli di bidang yang Anda minati. Karena itu,
segera setelah Anda diterima di universitas di Taiwan, Anda dapat menghubungi mereka untuk membuat perjanjian. Profesor adalah orang yang sangat penting dan kadang-kadang mereka tidak dapat menerima siswa baru karena mereka sudah memiliki kuota maksimum siswa yang dapat mereka terima.
Terakhir, saya ingin berbagi beberapa kata untuk siswa dari negara-negara "Southbound"; Saya ingin memberi tahu Anda bahwa saat ini adalah kesempatan yang sangat baik bagi Anda untuk mewujudkan impian Anda belajar di luar negeri. Pemerintah Taiwan memberikan cara yang lebih mudah untuk mendaftarkan seluruh persyaratan penerimaan. Saya tidak tahu kapan kebijakan ini akan berakhir. Jadi, raih kesempatan ini selagi ada.

 


  • img
  • img
  • img
  • img
  • img
  • img